Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyoroti pentingnya karakter dalam membentuk manusia Indonesia yang paripurna.
Menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup tanpa akhlak dan keteguhan memegang keyakinan. Megawati menyebut ada empat hal yang harus dimiliki seseorang agar mampu berdiri teguh menghadapi berbagai tekanan. Empat hal itu yakni keyakinan, keteguhan, keberanian, dan kesabaran.
Seseorang kalau tidak punya keyakinan, hehe, itulah, jadi penjilat. Jadi nomor satu keyakinan, kedua apa? Keteguhan. Ya, jangan loncat pagar melulu,”
kata Megawati saat pidato dalam acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II: Masa Reses dan Sidang Kedua Badan Penyelidikan Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) 10-17 Juli 1945 yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dikutip Rabu, 12 Agustus 2026.
Fenomena Pindah Haluan
Megawati menyinggung fenomena orang yang memilih berpindah haluan ketika menghadapi situasi sulit. Menurutnya, sikap tersebut kerap muncul karena seseorang tidak mau menghadapi konsekuensi dari pilihan yang telah dibuat.
Sekarang kan banyak banget yang loncat pagar karena enggak mau susah,”
ujarnya.
Menurut Megawati, keyakinan saja belum cukup. Seseorang juga harus memiliki keberanian untuk mempertahankan apa yang diyakininya.
Terus yang ketiga apa? Untuk supaya teguh dan keyakinannya tetap ada, itu keberanian. Kalau enggak berani, ya kayak gini aja. Kalau ada yang berani, itu saya malah senang,”
katanya.
Setelah keberanian, Megawati menempatkan kesabaran sebagai karakter berikutnya yang tidak kalah penting. Ia menilai keteguhan seseorang akan diuji ketika menghadapi tekanan dan persoalan yang berlangsung panjang.
Terus yang keempat tuh apa? Eh, dari keberanian itu. Yaitu apa? Kesabaran. Jadi kalau enggak sabar…”
ujar Megawati.


Megawati kemudian mengaitkan pentingnya kesabaran dengan pengalaman panjang yang dialami keluarganya sebagai keluarga Presiden pertama RI Soekarno.
Ia menyinggung bagaimana nama Bung Karno, menurutnya, telah lama dilekatkan dengan stigma tertentu melalui keputusan politik pada masa Orde Baru.
Tapi kan ada yang namanya episode di mana Bung Karno itu dibuat oleh Orde Baru itu TAP. yang dibuatnya itu oleh TAP MPR. Menurut saya, Pancasilanya itu digubrahkan, ini kan isu Pancasila, hehe,”
kata Megawati.
Megawati juga mempertanyakan dasar hukum yang membuat stigma tersebut terus melekat kepada Bung Karno selama puluhan tahun.
Apa? Loh, saya hitung ini cap itu 56 tahun loh melekat pada dirinya, padahal boleh cari ahli hukum di mana saja. Kalau Bung Karno itu pernah diginiin, diproses? Never,”
ujarnya.
Ruang Penjelasan
Menurut Megawati, persoalan tersebut seharusnya dilihat secara utuh, termasuk dari sisi hukum. Ia menegaskan pentingnya memberikan ruang kepada semua pihak untuk menyampaikan penjelasan.
Enak aja yang ngomongnya, ya ngomong yang benar gituloh. Benar apa enggak? Kan tanya dulu,”
kata Megawati.
Ia menilai prinsip tersebut penting karena setiap persoalan yang menyangkut seseorang semestinya tidak hanya dilihat dari satu sisi.
Kan ada loh dari sisi hukum yang namanya ini. Harus dua-duanya itu diberi kesempatan untuk bicara. Ini kan enggak,”
ujar Megawati.
Megawati mengatakan dirinya masih memilih bersabar menghadapi berbagai tudingan dan komentar yang diarahkan kepada keluarganya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesabaran bukan berarti seseorang tidak memiliki batas.
Kami ini keluarga Bung Karno, kebayang tidak? Ini enggak bohong loh. Mau diomongin terus nanti ada buzzer yang mau ngelawan, saya panggil loh buzzer-nya. Betul loh. Kalau ini saya masih sabar,”
tutur Megawati.

























