Pemerintah akan memberikan insentif untuk 1 juta motor listrik buatan dalam negeri. Bahkan, Presiden Prabowo mendorong produksi Motor Listrik Nasional (Molinas) dapat mencapai dua juta unit, di tengah tekanan daya beli masyarakat.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai target produksi motor listrik nasional tersebut terlalu optimis di tengah kondisi saat ini.
Target produksi 2 juta motor listrik nasional dan insentif untuk 1 juta unit yang digaungkan pemerintah terlihat terlalu optimistis jika dibandingkan dengan kondisi pasar saat ini,”
ujar Yusuf kepada Owrite Jumat, 21 Agustus 2026.
Kondisi Daya Beli Masyarakat


Yusuf mengatakan, saat ini permasalahan utama bukan hanya sebatas kapasitas produksi. Namun, kemampuan masyarakat dalam menyerap produk, di tengah tekanan daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Penjualan motor listrik masih berada di kisaran puluhan ribu unit per tahun, jauh dibandingkan penjualan motor konvensional yang mencapai sekitar 6 sampai 7 juta unit. Di tengah daya beli kelas menengah bawah yang masih tertekan, selisih harga dengan motor bensin entry level juga masih menjadi hambatan besar,”
jelasnya.
Menurut Yusuf, segmen masyarakat yang mampu menyerap 1 juta unit motor listrik ini sangat terbatas. Mereka diantaranya pekerja formal di perkotaan, ojek online (ojol), hingga lembaga yang mendapatkan skema pembiayaan khusus.
Segmen konsumen yang mampu menyerap 1 juta unit kemungkinan masih terbatas pada pekerja formal perkotaan, pengguna ojek online, atau lembaga yang mendapatkan skema pembiayaan khusus,”
jelasnya.
Sedangkan masyarakat dengan penghasilan rendah masih menghadapi persoalan harga, akses pembiayaan, infrastruktur pengisian, serta kekhawatiran mengenai umur dan biaya penggantian baterai.
Penghematan biaya operasional memang menarik, tetapi bagi konsumen berpenghasilan rendah, harga pembelian di awal tetap menjadi pertimbangan utama,”
jelasnya.
Insentif Rp3 Juta Belum Cukup


Yusuf menilai, besaran insentif yang akan digelontorkan pemerintah sebesar Rp3 juta per unit belum cukup untuk mendorong daya beli. Sebab, dengan insentif yang lebih besar sebelumnya target penjualan masih rendah.
Besaran insentif juga perlu dihitung secara realistis, jika insentif hanya Rp3 juta per unit, dengan total anggaran Rp3 triliun, daya dorongnya relatif terbatas. Program sebelumnya dengan insentif yang lebih besar saja belum mampu mendekati target penjualan yang sangat tinggi,”
jelasnya.
Maka dari itu, dia mengatakan saat ini permasalahan utama bukan sekedar menambah subsidi. Namun, pemerintah harus memastikan produk yang dihasilkan benar-benar dapat terserap pasar.
Artinya, persoalannya bukan sekadar menambah subsidi, tetapi memastikan ada permintaan yang cukup kuat dan pembiayaan yang mudah dijangkau masyarakat,”
jelasnya.
Sementara dari sisi industri, target ambisius Prabowo sebanyak 2 juta motor listrik ini perlu disesuaikan dengan kapasitas pasar. Sebab, bila mendorong investasi dan kapasitas produksi terlalu cepat tanpa kepastian permintaan, berpotensi menimbulkan overcapacity alias kelebihan kapasitas.
Pabrik memang bisa dibangun, tetapi yang lebih penting adalah memastikan produknya terserap pasar. Pendalaman industri baterai dan komponen juga membutuhkan investasi besar dan tidak akan efisien jika hanya didorong oleh target produksi tanpa basis permintaan yang kuat,”
imbuhnya.






















