Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pemenuhan kesehatan dan gizi anak sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun.
Peran ayah dinilai penting untuk memastikan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) berjalan optimal sebagai salah satu upaya mencegah stunting.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan pencegahan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada ibu.
Menurutnya, dukungan dan keterlibatan ayah diperlukan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Karena itu, Kemenkes menginisiasi Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan sebagai bagian dari upaya memperkuat keterlibatan ayah dalam pemenuhan kesehatan anak.
Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak,”
ujar Dante dalam keterangan resmi dikutip Senin, 31 Agustus 2026.
Gerakan Keayahan
Dante mengatakan Gerakan Keayahan diharapkan menjadi pengembangan dari konsep Suami Siaga yang selama ini dikenal dalam mendampingi ibu saat persalinan.
Dalam program 1.000 HPK, ayah juga didorong menjadi “Ayah Siaga” yang terlibat dalam memastikan anak mendapatkan pemenuhan kesehatan dan gizi sejak dini.
Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat,”
katanya.
Program 1.000 HPK mencakup periode sejak 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari atau ketika anak berusia di bawah dua tahun.
Periode tersebut menjadi fase penting bagi tumbuh kembang anak karena perkembangan otak berlangsung sangat pesat.
Pemerintah menempatkan program 1.000 HPK sebagai salah satu strategi untuk mencegah stunting, menurunkan angka kematian ibu dan bayi, serta memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung optimal.
Menurut Dante, intervensi 1.000 HPK bahkan perlu dipersiapkan sebelum kehamilan. Pemerintah menetapkan empat target intervensi utama, yakni fase sebelum hamil, masa kehamilan hingga bayi baru lahir, periode baduta, serta penguatan layanan kesehatan.
Pada fase sebelum hamil, intervensi diarahkan pada kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin agar pasangan siap secara fisik.
Saat kehamilan dan persalinan, ibu didorong mendapatkan pemeriksaan, termasuk USG, serta persalinan di fasilitas kesehatan yang aman.
Pemberian ASI Eksklusif
Sementara pada periode baduta, intervensi mencakup pemberian ASI eksklusif, pemenuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemerintah juga memastikan kesiapan fasilitas dan pembiayaan di puskesmas serta rumah sakit.
Dante menegaskan seluruh intervensi tersebut membutuhkan dukungan keluarga. Keterlibatan ayah menjadi penting agar pemenuhan kebutuhan kesehatan dan gizi anak tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan turut menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun fondasi kesehatan dan pendidikan anak.
Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time antara bapak, ibu, dan anak,”
ujar Veronica.
Veronica juga mengingatkan pentingnya kebiasaan makan sehat di lingkungan keluarga. Ia mendorong orang tua kembali membiasakan anak mengonsumsi masakan rumah dibandingkan makanan instan.





















