Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini mendorong elite Nahdlatul Ulama (NU) mengurangi orientasi pada politik praktis dan mengalihkan kekuatan organisasi untuk mempercepat pembangunan pesantren serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat nahdliyin.
Dia berpendapat kekuatan besar NU seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik jangka pendek. Setelah muktamar, elite NU dinilai memiliki pekerjaan yang lebih besar, yakni melanjutkan transformasi pesantren agar semakin berperan dalam pembangunan masyarakat.
“Sebaiknya hindari bermain politik praktis karena dengan posisi strategis, keanggotaan yang masif, dan besar jumlahnya, maka secara inheren NU mempunyai posisi dan daya tawar yang kuat,”
kata Didik dalam keterangannya, Selasa, 1 September 2026.
Didik menilai posisi strategis tersebut seharusnya digunakan untuk memperkuat sektor pendidikan, kesehatan, teknologi, sumber daya manusia, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesantren.
Pendekatan terhadap masyarakat nahdliyin juga perlu berubah. Massa NU tidak seharusnya terus ditempatkan sebagai objek untuk kepentingan politik dan perebutan kekuasaan.
“Tidak bisa lagi massa NU diposisikan sebagai obyek politik praktis untuk mengais suara dan mendukung elite-elitenya yang berkiprah, bergantung dan bergelantungan di kekuasaan,”
ujar dia.
Transformasi
Menurut Didik, pesantren saat ini telah mengalami transformasi besar dibandingkan kondisi beberapa dekade lalu. Mobilitas sosial masyarakat pesantren meningkat, begitu pula pertumbuhan kelas menengah serta kalangan intelektual dari lingkungan pesantren.
Karena itu, ia menilai agenda NU ke depan seharusnya diarahkan untuk membawa pesantren menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penerima program.
“Agenda elite NU ke depan adalah membawa pesantren dari ketertinggalan menuju keunggulan, dari penerima pembangunan menjadi pelaku pembangunan, dan dari kekuatan sosial menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, dan teknologi yang menentukan masa depan Indonesia,”
jelas Didik.
Didik juga mendorong NU dan pemerintah mengarahkan program pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia ke lingkungan masyarakat nahdliyin.
Penguatan pesantren dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi NU terhadap pembangunan nasional.
“Agenda NU yang utama seharusnya bukan di wilayah politik praktis kekuasaan, tetapi konsolidasi pembangunan, menjadikan kekuatan sosial dan politik yang dimiliki untuk mempercepat transformasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nahdliyin,”
imbuh dia.

























