Ketua DPR RI Puan Maharani minta aparat penegak hukum mengusut tuntas kematian Bambang Setiawan (59), pedagang cermin yang tewas setelah dipukuli dalam kerusuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Puan meminta seluruh pihak yang berada di balik insiden tersebut diperiksa berdasarkan bukti yang kuat. Desakan itu muncul di tengah sorotan publik terhadap kelompok-kelompok yang disebut berada di lokasi saat kericuhan terjadi seperti Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
Ya, kita minta semuanya itu diselidiki oleh pihak penegak hukum dengan tuntas,”
kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Puan minta aparat tak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab. Menurutnya, rangkaian kejadian yang menyebabkan Bambang meninggal harus dibuka secara utuh melalui penyelidikan.
Dan, kita lihat apa yang terjadi dan ya dituntaskan dengan sebaik-baiknya,”
ujarnya.
Puan mengatakan DPR sejak awal telah meminta agar penyampaian aspirasi dilakukan secara tertib. Kata dia, usai aksi demonstrasi tak semestinya berubah menjadi keributan hingga menimbulkan korban maupun kerusakan.
Ya dari awal kami kan sudah meminta bahwa aspirasi itu supaya dilaksanakan dengan tertib. Dan, jangan sampai kemudian terjadi keributan apalagi pengrusakan,”
kata Puan.
Karena itu, aparat diminta menyelidiki secara menyeluruh insiden yang terjadi setelah aksi demonstrasi. Hal itu termasuk mengurai siapa saja yang berada di lokasi dan apa peran masing-masing pihak dalam kericuhan tersebut.
Puan juga menekankan proses hukum harus bertumpu pada alat bukti. Hal itu penting agar pengusutan kematian Bambang tidak berhenti pada isu maupun tudingan yang beredar di masyarakat dan media sosial.
Jadi, kami meminta pada aparat terkait bisa menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya,”
ujarnya.
Puan kemudian meminta aparat memastikan penyelesaian perkara dilakukan berdasarkan bukti yang kuat. Jika dalam penyelidikan ditemukan pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, proses hukum harus dijalankan.
Dan, menuntaskan masalah ini dengan bukti-bukti yang kuat. Bila memang terbukti ya harus diselesaikan dengan tuntas,”
kata Puan.
Bambang Setiawan, pedagang cermin berusia 59 tahun, sebelumnya tewas setelah mengalami penganiayaan dalam kericuhan di kawasan Pejompongan pada 27 Agustus 2026. Detik-detik Bambang diseret dan dipukuli secara brutal oleh sejumlah orang tidak dikenal beredar luas di media sosial.
Polisi awalnya mendatangi lokasi setelah menerima informasi mengenai kerusuhan. Saat petugas tiba dan lokasi telah diamankan, Bambang ditemukan dalam kondisi pingsan.
Pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya mengevakuasi seorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,”
kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto.
Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mintohardjo untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.
Tapi pada saat penanganan di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia,”
kata Budi.
Adapun GRIB Jaya sendiri telah membenarkan kehadiran Ketua Umumnya, Rosario de Marshal alias Hercules, di lokasi pada malam 27 Agustus 2026. Namun, organisasi tersebut membantah kehadiran itu berkaitan dengan tindakan kekerasan.
Wilson Colling dari Divisi Hukum DPP GRIB Jaya mengatakan kehadiran Hercules bersama anggota GRIB Jaya dimaksudkan untuk membantu menjaga situasi Jakarta tetap kondusif.
Keberadaan tersebut bukan dimaksudkan untuk melakukan provokasi, memperkeruh keadaan, ataupun terlibat dalam benturan fisik,”
kata Wilson, Minggu, 30 Agustus 2026.
























