Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dinilai masih memiliki peluang untuk bersaing dalam Pilpres 2029, meski elektabilitasnya saat ini belum masuk tiga besar.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, melihat peluang tersebut justru semakin terbuka karena elektabilitas Partai Demokrat menunjukkan tren menguat.
Sementara AHY juga mulai kompetitif dalam sejumlah survei dan aturan presidential threshold telah dihapus Mahkamah Konstitusi.
Peluang itu masih terbuka selama kinerja AHY sebagai menteri tetap terjaga dan tidak ada isu negatif yang besar menerpanya,”
kata Jamiluddin kepada Owrite, Jumat, 11 September 2026.
Menurut Jamiluddin, peluang AHY tidak bisa hanya diukur dari posisi elektabilitas saat ini. Dinamika politik menuju 2029 masih sangat panjang dan kinerja AHY sebagai menteri akan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga sekaligus meningkatkan tingkat keterpilihannya.
Peluang ke arah itu semakin besar karena elektoral Partai Demokrat juga menunjukan trend naik. Survei terakhir elektabilitas Partai Demokrat sudah masuk empat besar,”
ucapnya.
Elektabilitas
Data SMRC memperlihatkan kenaikan elektabilitas Demokrat secara nasional dalam beberapa periode. Partai Demokrat berada di angka 6,4 persen pada November 2025, naik menjadi 7,0 persen pada Februari-Maret 2026, lalu mencapai 8,1 persen pada Juli 2026 dan menempati posisi keempat.
Dengan demikian, Jamiluddin melihat ada dua modal yang berjalan bersamaan, yakni penguatan partai dan meningkatnya daya saing AHY. Apabila tren tersebut dapat dipertahankan, peluang AHY untuk masuk lebih jauh dalam bursa Pilpres 2029 tetap terbuka.
Jadi, elektabilitas AHY dan Partai yang dipimpinnya sama-sama menunjukkan trend meningkat. Bila trend ini terus berlanjut maka peluang AHY untuk maju capres pada Pilpres 2029 tentu masih sangat terbuka,”
jelasnya.
Dari sisi personal, posisi AHY juga menunjukkan perkembangan dibanding sejumlah hasil survei sebelumnya. Dalam survei Indikator Politik Indonesia Oktober 2025, AHY berada di angka 3,9 persen.
Sementara dalam survei SMRC Juli 2026, AHY mencapai 4,9 persen. Pada survei yang sama, AHY masih berada di bawah Gibran yang memperoleh 7,7 persen.
Namun, dalam survei lain, jarak AHY dengan Gibran terlihat lebih tipis. Survei IPO yang dilakukan 27 Juli-3 Agustus 2026 menempatkan AHY di posisi keempat dengan 4,5 persen, sementara Gibran berada di 3,9 persen.
Artinya, persaingan keduanya untuk posisi cawapres masih sangat terbuka dan dapat berubah mengikuti dinamika politik. Jamiluddin menilai peluang Demokrat juga mendapat keuntungan besar dari perubahan aturan pencalonan presiden.
Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 62/PUU-XXII/2024 telah menghapus presidential threshold, sehingga partai politik peserta pemilu tidak lagi diwajibkan memenuhi ambang 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional untuk mengusulkan pasangan capres-cawapres.
Apalagi PT nantinya menjadi nol persen, maka AHY akan lebih mudah untuk maju capres. Sebab, Demokrat sendiri bisa mengusung pasangan capres-cawapres,”
ungkapnya.
Posisi Cawapres Realistis
Meski pintu pencalonan semakin terbuka, Jamiluddin melihat AHY belum tentu akan memilih jalur capres. Berdasarkan posisi elektabilitasnya saat ini, ia menilai opsi menjadi cawapres justru bisa lebih realistis apabila AHY mampu mempertahankan daya saingnya dengan figur-figur lain.
Meski demikian, AHY tampaknya tidak akan membidik capres. AHY bisa jadi hanya ingin maju sebagai cawapres,”
bebernya.
Jamiluddin menambahkan, pertimbangan tersebut salah satunya berkaitan dengan posisi AHY dalam sejumlah survei yang menunjukkan persaingan cukup ketat dengan Gibran.
Jika elektabilitas AHY terus menguat dan mampu mempertahankan posisi kompetitif, jalur cawapres bisa menjadi pilihan strategis bagi Ketua Umum Demokrat tersebut.
Pilihan itu setidaknya didasarkan pada hasil survei belakangan ini. Elektabilitas AHY tampak lebih kompetitif, dan bersaing ketat dengan Gibrqn Rakabuming Raka,”
terangnya.
Meski begitu, Jamiluddin mengingatkan bahwa keputusan politik AHY belum bisa dipastikan sekarang. Peta politik 2029 masih sangat dinamis dan perubahan elektabilitas dalam dua tahun ke depan dapat mengubah strategi Partai Demokrat maupun AHY.
Karena itu, bila elektabilitas AHY ke depan tetap lebih kompetitif untuk cawapres, maka Ketua Umum Partai Demokrat ini tampaknya akan memilih cawapres pada Pilpres 2029,”
jelasnya.
Namun karena politik itu dinamis, maka bisa saja AHY mengubah haluan memilih capres. Hal ini akan dilakukannya bila mendekati akhir 2028 elektabilitas AHY bisa masuk tiga besar,”
tutupnya.






















