Saat banyak pesepak bola seusianya sudah pensiun atau memilih bermain di liga dengan intensitas yang lebih rendah, Lionel Messi justru masih menunjukkan kelasnya di panggung terbesar dunia.
Di usia yang hampir menginjak 39 tahun, kapten Timnas Argentina itu kembali mencuri perhatian lewat performa menakjubkannya di fase grup Piala Dunia 2026.
Ketajamannya di depan gawang membuat banyak orang bertanya-tanya, bukankah secara biologis performa atlet seharusnya menurun seiring bertambahnya usia? Ternyata, jawabannya bukan semata-mata soal fisik.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Prof. Zulys menjelaskan bahwa rahasia Messi bertahan di level tertinggi justru berkaitan dengan cara kerja otak.
Penjelasan tersebut disampaikan melalui konten Behind the Scene yang diunggah di akun TikTok @prof.zulys.
Kenapa Performa Atlet Bisa Menurun?
Menurut Prof. Zulys memasuki usia 30 tahun tubuh atlet mulai mengalami berbagai perubahan. Massa otot dapat berkurang sekitar delapan persen setiap dekade, kecepatan sprint menurun, dan waktu reaksi tubuh menjadi lebih lambat.
Secara teori, kondisi tersebut membuat atlet semakin sulit bersaing di level tertinggi. Namun, Messi justru menjadi pengecualian yang menarik untuk dipelajari.
Apa yang Membuat Messi Menang?
Prof. Zulys menjelaskan bahwa sepak bola elite bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan juga kemampuan otak dalam mengambil keputusan.
Dalam ilmu neuroscience terdapat konsep anticipatory processing atau pemrosesan antisipatif. Konsep ini menjelaskan bahwa otak tidak hanya bereaksi terhadap situasi yang sedang terjadi, tetapi juga mampu memprediksi apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan.
Karena itulah Messi sering terlihat berjalan santai ketika pertandingan berlangsung. Padahal, pada saat yang sama ia sedang memetakan posisi lawan, memperkirakan arah bola, dan menentukan keputusan terbaik sebelum momen itu benar-benar terjadi.
Singkatnya, kecepatan larinya mungkin sudah tidak seperti dulu, tetapi kecepatan berpikirnya justru semakin tajam.
Apa Senjata Terbesar Seorang Legenda?
Dalam psikologi olahraga, pengalaman membuat otak semakin cepat mengenali pola permainan. Semakin sering seseorang menghadapi situasi yang sama, semakin cepat pula ia mengambil keputusan tanpa perlu berpikir terlalu lama.
Keputusan Messi yang terlihat sederhana sebenarnya merupakan hasil dari puluhan ribu jam latihan, pertandingan, dan pengalaman menghadapi berbagai situasi di lapangan selama lebih dari dua dekade.
Inilah yang membuatnya tetap mampu menjadi pembeda meski usia terus bertambah. Menurut Prof. Zulys, kisah Messi bukan hanya tentang sepak bola.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bertambahnya usia tidak selalu berarti kehilangan kemampuan. Yang perlu terus ditingkatkan bukan hanya tenaga, tetapi juga kebijaksanaan, pengalaman, serta kualitas berpikir.
Kalau anak muda menang karena otot, legenda menang karena otak.”
kata Prof. Zulys.
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, orang yang paling hebat bukan selalu mereka yang bergerak paling cepat, melainkan mereka yang mampu membaca situasi, belajar dari pengalaman, dan mengambil keputusan dengan tepat.
Itulah mengapa Lionel Messi masih mampu tampil luar biasa di usia yang hampir 39 tahun. Ketika kemampuan fisik perlahan menurun, kecerdasan, pengalaman, dan kematangan berpikir justru menjadi kekuatan yang membuatnya tetap bersinar di level tertinggi sepak bola dunia.





















