Pekan Raya Jakarta (PRJ) merupakan event yang ditunggu-tunggu banyak orang setiap tahunnya. Acara ini disebut sebagai pesta rakyat untuk merayakan ulang tahun Jakarta.
PRJ biasanya digelar selama satu bulan, tahun ini berlangsung pada 11 Juni hingga 12 Juli 2026. Jutaan orang memadati PRJ untuk berburu diskon, mencicipi kuliner, hingga menikmat konser. Tak hanya itu, PRJ juga sebagai ajang membangkitkan perekonomian masyarakat.
Jangan juga mengunjungi event ini, kamu juga perlu tahu asal usul PRJ. Nah kali ini Owrite akan merangkum asal usul dan sejarah PRJ. Berikut ulasannya dari laman Kementerian Pariwisata.
Asal Usul Pekan Raya Jakarta
Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau yang kini lebih dikenal sebagai Jakarta Fair pertama kali digelar pada tahun 1968 sebagai pameran dagang yang mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, acara ini berkembang menjadi festival perdagangan dan hiburan terbesar di Indonesia.
PRJ pertama kali digagas oleh Syamsuddin Mangan atau Haji Mangan yang kala itu menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta.
Ia mengusulkan kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin agar ibu kota memiliki pameran dagang berskala besar yang mampu mempromosikan produk dalam negeri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Usulan tersebut disambut baik dan diwujudkan menjadi sebuah pameran yang diberi nama Djakarta Fair, masih menggunakan ejaan lama bahasa Indonesia.
PRJ Pertama Digelar di Monas
Pekan Raya Jakarta pertama berlangsung pada 5 Juni hingga 20 Juli 1968 di kawasan Monumen Nasional (Monas).
Acara ini dibuka langsung oleh Presiden Soeharto melalui seremoni pelepasan burung merpati sebagai simbol dimulainya pameran.
Sejak penyelenggaraan perdana, Jakarta Fair tidak hanya menghadirkan pameran industri dan perdagangan, tetapi juga berbagai hiburan rakyat.
Konsep tersebut membuat PRJ cepat menjadi agenda tahunan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Jakarta.
Asal Nama Pekan Raya Jakarta
Banyak orang mengira kata “pekan” berarti satu minggu. Padahal, dalam bahasa Melayu, pekan memiliki arti pasar atau tempat berlangsungnya aktivitas perdagangan.
Karena itu, Pekan Raya Jakarta secara harfiah berarti pasar raya atau pameran dagang berskala besar, bukan acara yang hanya berlangsung selama tujuh hari.
Inilah alasan mengapa PRJ selalu berlangsung selama kurang lebih satu bulan.
PRJ Kini Pindah ke Kemayoran
Setelah lebih dari 20 tahun PRJ digelar di Monas, akhirnya event tersebut pindah ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada 1992.
Hal itu karena animo masyarakat yang semakin tinggi membuat lokasi tersebut tidak lagi memadai.
Kini Dikenal sebagai Jakarta Fair
Meski masyarakat lebih mengenalnya sebagai Pekan Raya Jakarta (PRJ), penyelenggara sejak sekitar tahun 2010 mulai lebih mengedepankan nama Jakarta Fair sebagai identitas resmi dalam berbagai materi promosi.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat citra acara di tingkat internasional sekaligus memudahkan wisatawan mancanegara mengenali festival tahunan tersebut.
Hingga kini, kedua nama tersebut masih digunakan secara berdampingan. Di kalangan masyarakat, istilah PRJ tetap menjadi sebutan yang paling populer, sementara Jakarta Fair lebih banyak digunakan sebagai nama merek (branding) penyelenggaraan acara.
Meski kini identik dengan diskon besar, kuliner, wahana permainan, dan konser musik, misi utama Pekan Raya Jakarta sejak awal tidak pernah berubah.
PRJ hadir sebagai wadah promosi produk nasional, tempat bertemunya pelaku usaha dengan konsumen, sekaligus penggerak roda perekonomian.
Saat ini, ribuan perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, elektronik, fesyen, makanan dan minuman, hingga UMKM, ikut berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan.
Jutaan pengunjung pun datang setiap tahun, menjadikan PRJ sebagai salah satu pameran multiproduk terbesar di Asia Tenggara.
Lebih dari lima dekade sejak pertama kali digelar pada tahun 1968, Pekan Raya Jakarta telah berkembang dari sebuah pameran dagang menjadi ikon ekonomi, budaya, dan hiburan ibu kota.
Meski wajahnya terus berubah mengikuti perkembangan zaman, semangat awal PRJ tetap sama, yakni menjadi etalase produk Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.






















