Belakangan ini, tradisi tedak siten kembali menjadi sorotan setelah sejumlah selebriti Indonesia membagikan momen upacara tersebut untuk buah hati mereka melalui media sosial.
Prosesi yang sarat dengan nuansa budaya Jawa ini pun menarik perhatian warganet.
Lebih dari sekadar seremoni turun tanah, tedak siten mengandung berbagai filosofi tentang kehidupan, kemandirian, dan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, berakhlak baik, serta mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Apa Itu Tradisi Tedak Siten?
Dari laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tedak siten berasal dari bahasa Jawa, yakni tedhak berarti turun atau menapakkan kaki, sedangkan siten atau siti berarti tanah.
Dengan demikian, tedak siten berarti upacara pertama kali seorang anak menginjakkan kaki di tanah.
Biasanya dilaksanakan saat bayi berusia sekitar tujuh lapan dalam penanggalan Jawa atau sekitar delapan bulan menurut kalender Masehi.
Pada usia tersebut, bayi umumnya mulai belajar berdiri dan berjalan sehingga dianggap waktu yang cukup untuk upacara ini.
Makna dan Filosofi Tedak Siten
Setiap perlengkapan atau uba rampe yang digunakan memiliki makna tersendiri. Beberapa di antaranya adalah jadah tujuh warna, tangga dari tebu wulung, kurungan, air bunga untuk memandikan anak, udhik-udhik, tumpeng, pisang raja, ayam panggang, serta berbagai jajanan tradisional.
Seluruh perlengkapan tersebut menjadi simbol doa dan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, serta membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Rangkaian Prosesi Tedak Siten:
1. Membersihkan Kaki Anak
Prosesi diawali dengan mencuci kaki bayi sebagai simbol kesucian dan doa agar ia memulai perjalanan hidup dengan baik.
2. Berjalan di Atas Tujuh Jadah Berwarna
Anak kemudian berjalan di atas tujuh jadah berwarna. Angka tujuh (pitu) melambangkan pitulungan atau pertolongan dari Tuhan, sedangkan warna-warni jadah menggambarkan berbagai tantangan hidup yang diharapkan mampu dilalui anak.
3. Menaiki Tangga dari Tebu Wulung
Anak dibimbing menaiki tangga dari tebu wulung yang melambangkan keteguhan hati dan harapan agar kelak gigih dalam meraih cita-cita.
4. Masuk ke Dalam Kurungan
Selanjutnya, anak masuk ke dalam kurungan berisi berbagai benda, seperti buku, uang, atau mainan. Benda yang dipilih menjadi simbol minat atau harapan terhadap masa depannya.
5. Memandikan Anak dengan Air Bunga
Anak kemudian dimandikan dengan air bunga sebagai doa agar tumbuh menjadi pribadi yang baik dan membawa nama harum keluarga.
6. Menyebarkan Udhik-Udhik
Prosesi ditutup dengan membagikan udhik-udhik berupa uang logam yang dicampur bunga sebagai simbol harapan agar anak kelak menjadi pribadi yang dermawan dan suka berbagi.
Tradisi yang Tetap Dilestarikan
Tedak siten dapat berbeda-beda di setiap daerah, baik dari segi urutan prosesi, tata cara, maupun perlengkapan yang digunakan.
Namun, perbedaan tersebut tidak menghilangkan makna utama dari tradisi ini, yaitu sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa orang tua agar anak tumbuh sehat.
Di tengah perkembangan zaman, tedak siten masih terus dilestarikan oleh banyak keluarga Jawa. Hal tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya tetap dapat dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.


















