Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi mencapai 1.879,31 hektare hingga Kamis, 3 September 2026. Di tengah ancaman puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada September, upaya pemadaman menghadapi tantangan karena sebagian area gambut sulit dijangkau alat berat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi pun memperkuat penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan satgas darat, termasuk membuat sekat bakar dan pendinginan secara intensif di wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan kondisi lahan gambut menjadi salah satu kendala dalam upaya mencegah api meluas. Sejumlah titik bahkan tidak dapat dibuat sekat karena alat berat tidak bisa masuk ke lokasi.
“Kalau hari ini ada perkembangan dari Satgas Udara, mungkin ada pelebaran sedikit saja area terbakar. Karena kondisi gambut, semalam kami sudah membuat sekat. Namun, ada daerah yang tidak bisa kami sekat karena alat berat tidak bisa masuk,”
ujar Bachyuni dalam keterangannya dikutip pada Jumat, 4 September 2026.
Segala Upaya
Pada Kamis, estimasi area yang terbakar mencapai 47,5 hektare. Dari jumlah tersebut, 37 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 11,5 hektare masih dalam penanganan melalui operasi darat, water bombing, maupun operasi gabungan.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena pemantauan menunjukkan masih ada 182 titik panas di Jambi. Ada 34 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, sementara 148 titik lainnya memiliki tingkat kepercayaan rendah.
Berdasar estimasi 47,5 hektare area terbakar pada hari yang sama, terdapat 20 titik api. Tiga di antaranya merupakan titik lama yang masih dalam proses pemadaman.
Tambah Personel
Bachyuni mengatakan penguatan personel menjadi salah satu langkah untuk memastikan area yang telah dipadamkan tidak kembali terbakar. 20 personel tambahan dari Basarnas, Brimob, dan Batalyon Infanteri 142 dikerahkan untuk memperkuat tim di lapangan.
“Sekarang ada 5.984 orang tim darat dan kami arahkan untuk menambah sekitar 20 orang,”
kata dia.
Selain memperkuat personel, BPBD juga memanfaatkan alat berat yang sebelumnya mendapat dukungan dari BNPB untuk membuat sekat bakar. Tim darat juga diarahkan membuat kanal-kanal air yang dapat digunakan sebagai sumber air untuk pemadaman dan pendinginan.
Upaya tersebut dilakukan untuk menahan laju kebakaran, terutama di wilayah gambut yang berpotensi menyimpan bara dan memicu kembali kebakaran meski api di permukaan telah dipadamkan.
Di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, misalnya, tim Pos 27 berhasil memadamkan api di area seluas tiga hektare. Setelah pemadaman, personel tetap mendinginkan area untuk memastikan tidak ada bara yang dapat memicu kebakaran kembali.
Dari total 37 hektare area yang berhasil dipadamkan pada Kamis, 31 hektare ditangani melalui operasi satgas darat. Sementara enam hektare lain dipadamkan menggunakan water bombing.
Awan Belum Tumbuh
Selain operasi darat dan udara, pemerintah juga telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla di Jambi.
OMC berlangsung pada 26 Agustus hingga 2 September 2026. Selama periode tersebut tercatat delapan sortie dengan total waktu penerbangan 15 jam 32 menit. Operasi itu menggunakan 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl).
Namun, operasi modifikasi cuaca juga menghadapi tantangan kondisi atmosfer. Berdasarkan pemantauan BMKG, hingga 10 September 2026 diperkirakan belum terdapat pertumbuhan awan.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi pelaksanaan OMC. Maka satgas akan mengoptimalkan patroli serta pemantauan kondisi cuaca untuk mendukung penanganan karhutla.
Dengan luasan kebakaran yang telah mencapai hampir 1.900 hektare, keberadaan titik panas, serta puncak kemarau yang masih berlangsung, penanganan karhutla di Jambi kini berpacu dengan waktu. Terlebih, sebagian area gambut yang sulit dijangkau membuat upaya mencegah api kembali menyala menjadi tantangan bagi petugas.



























