Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menerima keluhan dari pedagang tahu dan tempe yang keuntungannya tergerus karena ambruknya nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, rupiah ada di level Rp18.036 per dolar AS.
Purbaya mengaku, berdasar laporan yang ia terima, para pedagang terpaksa menaikkan harga akibat ketergantungan bahan baku tahu dan tempe pada kedelai impor.
“Saya dengar penjual tempe dan tahu tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan baku masih impor, itu akan menaikkan cost of production mereka,”
ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.
Purbaya mengatakan otoritas fiskal dan moneter bersepakat untuk menempuh berbagai langkah guna menstabilkan nilai tukar rupiah. Sehingga diharapkan kepercayaan pasar akan kembali dan membuat nilai tukar berangsur pulih.
“Kalau kebijakannya sudah menyatu, sinergi penuh, seharusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar kepada nilai tukar rupiah. Sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi daripada sekarang. Terpenting adalah kami ingin melihat dampak positif rupiah kepada masyarakat,”
tutur dia.
Adanya kerja sama fiskal dan moneter yang kompak, maka masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, tidak menanggung kenaikan yang signifikan.
“Dengan nanti kebijakan yang lebih bagus, kami akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu tempe, dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, serta tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan,”
kata Purbaya.

