Angka inflasi yang rendah dan terkendali selama ini kerap dijadikan bukti bahwa kondisi ekonomi nasional berada di jalur yang aman.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (year-on-year) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 111,40, meningkat dari 2,42% pada April 2026. Inflasi bulanan (month-to-month) pada Mei 2026 berada di angka 0,28%, didorong utamanya oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Pengamat ekonomi sekaligus pelaku ekonomi kreatif, Febryan Wishnu menilai, pemerintah berisiko terjebak pada cara pandang yang keliru, jika hanya menjadikan inflasi rendah sebagai indikator keberhasilan ekonomi.
Menurutnya, inflasi yang terkendali tidak selalu mencerminkan ekonomi yang sehat. Bahkan dalam kondisi tertentu, angka inflasi yang rendah justru dapat menjadi sinyal melemahnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Angka inflasi yang terlihat terkendali bukan otomatis berarti ekonomi kita sedang baik-baik saja. Ini adalah kerancuan berpikir yang berbahaya, dan sayangnya, kerancuan ini sering kali hadir dalam komunikasi publik resmi pemerintah,”
Febryan.
Diakui Febryan, kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia sejauh ini bekerja cukup efektif dalam menjaga stabilitas harga, dan mengendalikan gejolak inflasi.
Saya akui, secara teknis kebijakan moneter Bank Indonesia bekerja. Instrumen suku bunga, operasi pasar terbuka, dan pengelolaan nilai tukar dilakukan dengan cukup profesional. Itu harus kita akui secara jujur,”
ujarnya.
Namun, menurut Febryan, persoalan sebenarnya terletak pada sumber dari inflasi rendah itu sendiri. Ia menilai, inflasi yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya permintaan masyarakat dibandingkan peningkatan produktivitas ekonomi.
Kebijakan moneter yang baik tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa inflasi kita yang ‘terkendali’ saat ini, sebagian besar adalah produk dari permintaan yang lesu, bukan dari produktivitas yang meningkat,”
tegasnya.
Febryan menjelaskan, terdapat dua jenis inflasi rendah. Pertama, inflasi rendah karena produksi melimpah dan distribusi berjalan efisien. Kondisi ini dianggap sehat bagi perekonomian. Namun jenis kedua justru lebih berbahaya, yakni ketika inflasi rendah terjadi karena masyarakat tidak memiliki kemampuan membeli barang dan jasa.
Inflasi rendah karena demand destruction, masyarakat tidak mampu beli, pedagang tidak berani naikkan harga, aktivitas ekonomi mandek. Ini alarm merah yang dibungkus angka yang tampak tenang,”
jelasnya.
Sebagai indikator, Febryan menyoroti stagnasi penjualan ritel dan melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Semua itu adalah sinyal bahwa daya beli riil masyarakat sedang tergerus, bukan sinyal bahwa ekonomi sedang efisien,”
ungkapnya.
Lebih jauh Febryan, mengkritik narasi pemerintah yang sering menampilkan inflasi terkendali sebagai prestasi tanpa melihat kondisi riil yang sedang dihadapi masyarakat. Dengan analogi yang tajam, Febryan menggambarkan situasi tersebut seperti pasien yang tampak sehat dari luar, padahal sedang mengalami masalah serius.
Itu seperti dokter yang bangga karena pasiennya tidak demam, padahal pasien tidak demam karena sudah terlalu lemah untuk bereaksi. Kondisi yang tampak stabil di permukaan bisa menyimpan rapuh yang jauh lebih serius di bawahnya,”
tutup Febryan.



