Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah bergerak berlawanan pada penutupan perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Rupiah menguat 0,12 persen ke level Rp17.922 per dolar Amerika Serikat (AS), dan IHSG anjlok 1,72 persen ke level 5.896.
Nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp12,7 triliun dengan melibatkan 20,7 miliar saham dalam 1,5 juta kali transaksi. Sebanyak 123 saham naik, 129 tidak bergerak, dan 562 turun.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami penurunan terdalam alias top loser yakni PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) anjlok 14,88 persen ke Rp205, PT Colorpak Indonesia Tbk (CLPI) naik 14,83 persen ke Rp1,465, dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) anjlok 14,68 persen ke Rp1.395.
Sedangkan saham paling banyak dijual asing atau net foreign diantaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp224,17 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp93,23 miliar, dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp43,52 miliar.
Pendorong Rupiah
Sementara itu, Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan menguatnya rupiah ini karena respons positif pasar atas rencana efisiensi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026.
Pasar merespon positif terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan MBG,”
kata Ibrahim dalam risetnya.
Penguatan rupiah ini, sambung Ibrahim, sejalan dengan penguatan intervensi pasar secara agresif oleh Bank Indonesia melalui tiga lini utama pasar spot. Hal ini diantaranya Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Intervensi guna meredam volatilitas dan mencegah depresiasi rupiah yang belakangan mendekati level Rp18.000 per dolar AS,”
terangnya.
Adapun untuk perdagangan Senin, 29 Juni 2026 rupiah diperkirakan ditutup melemah direntang Rp17.880 hingga Rp18.100 per dolar AS.

























