Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menetapkan masa transisi implementasi biodiesel B40 menuju B50 selama dua bulan.
Setelah periode tersebut berakhir, seluruh konsumsi solar nasional ditargetkan menggunakan campuran biodiesel B50.
Ini transisi dua bulan saja. Jadi sekarang ini sudah dipakai 56 persen dari total solar yang sudah jalan. Nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50,”
kata Bahlil dalam acara Peluncuran B50 melalui akun Youtube resmi Kementerian ESDM, Kamis, 9 Juli 2026.
Hemat Devisa Negara


Bahlil juga menambahkan bahwa penerapan B50 juga meningkatkan penghematan devisa negara menjadi sekitar Rp170 triliun.
Politisi Partai Golkar itu mengatakan konsumsi solar nasional mencapai sekitar 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Sebelum penerapan B50, Indonesia masih mengimpor sekitar tiga juta hingga empat juta kiloliter solar setiap tahun.
Dengan implementasi B50, maka Alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali,”
ujarnya.
Kurangi Impor BBM dan Tambah Kebutuhan CPO
Menurut dia, penghematan devisa juga meningkat dibandingkan saat implementasi B40. Jika pada program B40 penghematan devisa mencapai sekitar Rp133 triliun, maka pada B50 nilainya naik menjadi sekitar Rp170 triliun.
Selain mengurangi impor BBM, implementasi B50 diperkirakan meningkatkan kebutuhan crude palm oil (CPO) domestik menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton.
Kebijakan ini dinilai memberikan kepastian pasar bagi petani sawit sekaligus meningkatkan nilai tambah industri CPO.






















