PT Kereta Api Indonesia (Persero) menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap pada seluruh sarana sejak 1 Juli 2026. Kebijakan ini diterapkan pada lokomotif dan kereta pembangkit.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan penerapan B50 dilakukan setelah perusahaan menyelesaikan berbagai tahapan pengujian teknis dan evaluasi operasional.
Setiap tahap kami persiapkan melalui pengujian teknis dan evaluasi operasional agar transisi energi tetap berjalan selaras dengan keselamatan perjalanan serta keandalan sarana,”
kata Anne dalam keterangan resmi, Rabu, 15 Juli 2026.
B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbahan baku minyak nabati dan 50 persen solar.
Pemerintah mendorong peningkatan bauran biodiesel untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
KAI menyebut kesiapan penggunaan B50 telah melalui serangkaian pengujian pada mesin diesel. Pengujian itu baik di lokomotif maupun kereta pembangkit.
Pengujian tersebut meliputi performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, kondisi filter, pelumas, hingga sistem bahan bakar.
Pada kereta pembangkit, pengujian dilakukan untuk memastikan pasokan listrik selama perjalanan tetap stabil. Sementara, pada lokomotif, evaluasi difokuskan pada respons mesin terhadap karakteristik operasional kereta dengan berbagai tingkat beban.
Anne mengatakan pemantauan bakal dilakukan secara menyeluruh mulai dari kualitas bahan bakar, kondisi mesin, filter, hingga pola perawatan.
Evaluasi akan terus dilaksanakan agar penerapan B50 dapat mendukung operasional kereta api secara aman, andal, dan terukur,”
ujar Anne.
KAI menjelaskan pengalaman menggunakan biodiesel B35 dan B40 menjadi bekal dalam implementasi B50. Setiap peningkatan kadar biodiesel diikuti dengan penyesuaian prosedur pemeriksaan, pemeliharaan, pengelolaan bahan bakar, serta peningkatan kompetensi petugas yang menangani sarana diesel.
Selain menjalankan transisi energi di sektor operasional, KAI juga mencatat peningkatan layanan distribusi bahan bakar minyak (BBM) menggunakan kereta api.
Dari data KAI, Sepanjang Januari hingga Juni 2026, volume layanan distribusi BBM mencapai 1.338.180 ton. Angka itu naik 4,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 1.278.621 ton.
Salah satu layanan tersebut pengangkutan avtur dari Stasiun Cilacap menuju Stasiun Rewulu. Kemudian, diteruskan untuk memenuhi kebutuhan operasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
Dia bilang KAI menjalankan peran dari dua sisi. Pada operasional sarana diesel, KAI menerapkan B50 sebagai bagian dari transisi energi.
Pada layanan logistik, KAI menjaga kelancaran distribusi BBM, termasuk avtur yang mendukung aktivitas penerbangan di Bandara YIA,”
jelas Anne.
























