Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak lagi mempertontonkan tersangka korupsi di hadapan publik, memicu babak baru dalam diskursus penegakan hukum. Langkah tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP, yang dinilai sebagai momentum koreksi.
Mungkin rekan-rekan bertanya, ‘Kenapa tidak ditampilkan para tersangkanya?’ Itu salah satunya kami juga sudah mengadopsi KUHAP baru,”
kata Plt. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu, Minggu 11 Januari 2026.
Langkah ini adalah implementasi Pasal 91 UU KUHAP yang secara spesifik melarang penyidik melakukan perbuatan yang menimbulkan praduga bersalah saat penetapan tersangka. Asep menekankan bahwa KUHAP anyar berfokus pada aspek perlindungan HAM, termasuk bagi tersangka pidana korupsi.
Merespons fenomena ini, pengajar STH Indonesia Jentera, Asfinawati, menilai publik salah sasaran jika menuduh KPK melindungi koruptor. Masalah ketidakadilan yang dirasakan publik justru bersumber dari standar ganda yang dipraktikkan institusi Polri.






