Tujuh bulan penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan mark up anggaran proyek kereta cepat Whoosh mandek. Nihil progres pengusutan kasus tersebut hingga kini.
Selama itu juga, tidak ada perkembangan yang siginifikan di meja penyidik antirasuah. Meski penyidik mengklaim kasus itu masih tetep diselidiki.
“Terkait dengan kereta cepat Whoosh, saat ini prosesnya masih tahap penyelidikan,”
kata Jubir KPK Budi Prasetyo di kantor KPK, Selasa 5, Mei 2026.
Proses penyelidikan masih tertutup, sehingga belum banyak informasi yang bisa disampaikan kepada publik.
“Jadi kami belum bisa menyampaikan secara terbuka, secara lengkap terkait dengan penyelidikan perkara ini. Namun, yang pasti bahwa penyelidikan kereta cepat ini masih terus berprogres,”
tegas Budi.
OTT jadi Dalih
Di balik proses penyelidikan yang mengendap, “banyak tugas” dianggap urgensi sehingga kasus itu belum dilanjutkan. Budi bilang beberapa kegiatan seperti operasi tangkap tangan (OTT) yang gencar dilakukan belakangan ini.
Dalam OTT, penyidik dipaksa mengejar tenggat waktu mulai dari menetapkan hingga menahan tersangka. Belum lagi jika penyidik menemukan fakta baru, maka mereka harus mengembangkan temuan untuk menuntaskan rangkaian penyelidikan.
“Kami juga harus sesuaikan waktu. Karena kalau kami lakukan tangkap tangan maka kami segera menggeledah, memeriksa kepada para pihak, termasuk saksi-saksi (dan) pihak yang ditetapkan sebagai tersangka, sehingga berkas penyidikannya juga bisa lebih cepat dilengkapi,”
tutur Budi.
Ketika disinggung perihal upaya KPK menggeledah dalam kasus dugaan korupsi Whoosh dengan menggunakan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) umum, Budi tidak menjelaskan secara jelas.
“Terkait dengan itu nanti kami lihat perkembangannya. Karena memang penyelidikan ini juga masih terus berprogres. Beberapa hal dilakukan oleh kawan-kawan penyelidik,”
ucap dia.
KPK mulai mengusut perkara Whoosh pada Oktober 2025. Kasus itu mencuat setelah mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyebut ada dugaan mark up senilai 52 juta dolar AS. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding biaya proyek serupa di China yang menelan 17 hingga 18 juta dolar AS per kilometer.
Meski digadang-gadang sebagai proyek strategis nasional yang membanggakan, berbagai pihak menyoroti pembengkakan biaya, keterlambatan pembangunan, hingga dugaan ketidakefisienan pengelolaan anggaran. Proyek yang awalnya ditaksir menghabiskan sekitar US$6 miliar, kini dikabarkan menembus lebih dari US$8 miliar.

