Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Jampidsus Kejagung) Febrie Adriansyah menyatakan ada tiga perkara korupsi yang saat ini tengah ia perhatikan.
Febrie mengaku tetap berfokus pada penanganan perkara meski diterpa keterlibatan dirinya dalam tiga kasus yang sedang dibidik Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya.
“Saat ini (kami) sedang fokus untuk menyelesaikan penanganan perkara yang menyangkut kepentingan bangsa dan hajat hidup masyarakat,”
kata Febrie dalam jumpa pers di Kompleks Kejagung, Jumat, 10 Juli 2026.
Febrie mengatakan penanganan ketiga perkara itu sebagaimana bagian dari program prioritas nasional, salah satunya dalam bidang sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan jika diusut dianggap akan menguntungkan negara.
“Perkara yang sudah terbuka ke publik maupun yang tertutup, yaitu tata kelola pertambangan. Kami ingin semua dapat dikelola dengan baik dengan kepentingan sebesar-besarnya untuk negara,”
ujar dia.
Kasus selanjutnya yakni dugaan korupsi transfer pricing dan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya ketiga kasus itu membutuhkan kekuatan besar untuk mengusutnya hingga tuntas.
Korps Adhyaksa berkomitmen akan memberikan efek jera terhadap para pelaku praktik rasuah secara profesional demi mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas. Dia juga menegaskan bakal menghormati proses hukum Polri yang tengah menyidik dugaan kasus suap, gratifikasi, dan pencucian uang.
Febrie meminta masyrakat agar tidak berspekulasi terlebih dahulu mengingat proses hukum yang ditangani polri masih terus berlangsung.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menyikapi setiap informasi secara bijaksana berdasarkan fakta yang utuh agar mendapatkan pemahaman yang benar,”
tegas dia.
Setali Tiga Uang
Saat ini penyidik Kortastipikor Polri dan Polda Metro Jaya menelusuri tiga kasus korupsi dugaan suap, gratifikasi, dan pencucian uang, yakni korupsi pengadaan batu bara untuk PLTU, pencucian uang PT Asabri, dan korupsi Krakatau Steel.
Pada proses penyidikan kali ini penyidik telah menggeledah 13 lokasi, yang salah satu titiknya menyasar kediaman Febrie di Parahyangan Golf 2, Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Di rumah itu penyidik menyita uang senilai ratusan miliar rupiah dan satu koper berisi emas batangan seberat 74 Kg yang ditemukan dalam brankas tersembunyi dibalik kompartemen kayu. Kemudian berbagai mata uang asing senilai Rp476 miliar.
Kemudian Di kafe de’Clan, Cipete, Jakarta Selatan, penyidik menemukan sebuah brankas berisi uang total Rp60 miliar berupa dolar Singapura, dolar AS, dan rupiah. Brankas itu tersembunyi di balik kompartemen kayu di dalam kafe.
Lalu, di Koin Money Changer, Cipete, penyidik menyita Rp7,2 miliar yang juga dalam bentuk berbagai mata uang asing yang dikemas dalam 16 paket.


























