Pernah kebayang nggak sih kalau suatu saat nanti, kamu harus merawat orang tua yang dulunya pernah meninggalkan luka atau trauma di masa kecilmu?
Di satu sisi kamu ada rasa tanggung jawab sebagai anak, tapi nggak dapat dipungkiri kalau hati kecilmu akan berteriak setiap kamu berinteraksi dengan mereka.
Mungkin bayangan-bayangan kekerasan ataupun kenangan buruk lainnya dari masa lalumu muncul dan menghantuimu.
Psikolog Dra. Yuli Suliswidiawati lewat akun TikTok pribadinya, @yuli.depth.ofc. membahas pengalaman merawat orang tua yang pernah menyakiti anak, baik secara emosional maupun fisik.
Menurut Yuli, sebagai seorang anak tetap bisa memilih merawat orang tua mereka sebagai bentuk bakti, tapi kita tidak perlu untuk pura-pura seolah luka masa lalu itu nggak pernah ada.
Bakti tidak berarti harus menyangkal luka,”
tulisnya dalam unggahan tersebut.
Artinya, menjadi anak yang berbakti bukan berarti kamu harus memaksa dirimu untuk melupakan segala pengalaman buruk yang pernah kamu alami.
Justru, mengakui bahwa diri sendiri pernah terluka, merupakan langkah terbaik untuk memahami emosi yang muncul sekarang.
Kekerasan Masa Kecil
Dalam penjelasannya, Yuli juga membagikan kisah seorang kliennya yang berusia 27 tahun yang mengaku kembali teringat pengalaman kekerasan masa kecilnya saat merawat sang ayah yang sudah sepuh.
Kenangan itu ternyata bukan cuma meninggalkan rasa sakit secara fisik, tapi juga luka mental yang masih terasa sampai dewasa.
Situasi seperti ini memang bisa terasa rumit banget. Ketika orang tua sudah nggak berdaya dan membutuhkan bantuan, seorang anak mungkin tetap ingin menjalankan kewajibannya.
Tapi di saat yang sama, pengalaman masa lalu ini ternyata menghantui dan memunculkan rasa marah, sedih, kecewa, bahkan terpaksa.
Akibatnya, merawat orang tua bukan cuma melelahkan secara fisik, tapi juga menguras energi seluruh emosi. Perasaan seperti itu bukan berarti kamu anak yang tidak berbakti.
Kamu bisa saja mencintai seseorang sekaligus mengakui bahwa ada bagian dari dirimu yang pernah terluka karenanya. Dua hal ini memang bisa muncul bersamaan.
Trauma Masa Kecil
Dalam kontennya, Yuli menyarankan agar perasaan-perasaan tersebut nggak perlu di pendam sendirian. Yuli menyarankan anak yang mengalami trauma masa kecil dan harus merawat orang tuanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Salah satu cara yang ia bagikan adalah dengan memejamkan mata, mengingat kembali pengalaman yang menyakitkan, lalu mencurahkan semua yang dirasakan kepada Sang Pencipta.
Setelah mengakui rasa sakit itu, Yuli mengajak untuk menyerahkan kondisi yang sedang dihadapi kepada Tuhan dan memohon kemampuan untuk tetap menjalankan bakti kepada orang tua.
Tujuannya bukan untuk menghapus kejadian masa lalu, tapi membantu seseorang menghadapi kondisi sekarang tanpa terus-menerus terbebani konflik batin.
Merawat orang tua memang bisa jadi bentuk kasih sayang dan bakti. Tapi bukan berarti kamu harus menghapus semua luka dan emosi yang ada dalam dirimu.
Kalau luka masa kecil masih terasa kuat, nggak ada salahnya mencari bantuan yang tepat, termasuk ngobrol dengan psikolog atau profesional kesehatan mental.
Sebab, kamu juga berhak punya ruang untuk memahami apa yang sedang dirasakan.
Jadi, merawat orang tua dan merawat diri sendiri bukan dua hal yang harus dipertanyakan mana yang paling diprioritaskan.
Kamu boleh berusaha menjadi anak yang berbakti sambil tetap memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memulihkan luka yang pernah ada.
Pelan-pelan saja, karena berdamai dengan masa lalu memang nggak selalu selesai dalam satu malam.





















