Musik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari menemani perjalanan, bekerja, berolahraga, hingga membantu seseorang bersantai setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.
Tak hanya memberikan hiburan, mendengarkan musik juga berkaitan dengan kondisi emosional dan kesehatan mental seseorang.
Karena itu, musik kerap digunakan sebagai salah satu cara untuk mendukung kesehatan mental.
Berbagai Penelitian
Penggunaan musik sebagai bagian dari terapi telah diteliti dalam berbagai penelitian. Salah satunya adalah systematic review dan meta-analysis oleh Martina de Witte dan tim yang diterbitkan secara online pada 2020 dan dimuat dalam jurnal Health Psychology Review pada 2022.
Penelitian tersebut menganalisis 47 studi dengan 2.747 peserta dan menemukan bahwa terapi musik memberikan efek sedang hingga kuat dalam membantu mengurangi stres.
Temuan tersebut sejalan dengan rangkuman National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) yang menyebutkan bahwa intervensi berbasis musik, termasuk terapi musik, dapat membantu memperbaiki sejumlah indikator stres, baik secara psikologis maupun fisik.
Manfaat Musik
Temuan tersebut menunjukkan bahwa musik dapat memberikan lebih dari sekadar kesenangan saat didengarkan. Melansir dari laman Pijar Psikologi (12 Januari 2021), berikut beberapa manfaatnya yang perlu diketahui:
- Mengelola Emosi. Dalam terapi musik, aktivitas seperti mendengarkan, bernyanyi, menari, hingga menciptakan lagu dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan emosional seseorang. Musik juga dapat menjadi media untuk mengekspresikan perasaan yang terkadang sulit disampaikan melalui kata-kata.
- Mengurangi Stres dan Kecemasan. Penggunaan musik membantu orang yang mengalami berbagai kondisi, termasuk depresi, gangguan kecemasan, dan insomnia. Meski begitu, terapi musik bukan pengganti pengobatan atau bantuan profesional, melainkan dapat menjadi bagian dari dukungan meningkatkan kesehatan mental.
- Media Ekspresi Diri. Seseorang dapat memilih lagu yang liriknya sesuai dengan pengalaman pribadi, bernyanyi, memainkan alat musik, atau bahkan menciptakan lagu sendiri. Aktivitas tersebut memungkinkan seseorang menuangkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk yang kreatif.
- Mendukung Interaksi dan Komunikasi. Dalam terapi musik, aktivitas bermusik dapat digunakan untuk mendorong komunikasi dan membangun hubungan sosial. Hal ini juga diterapkan pada anak dengan gangguan spektrum autisme. Musik dapat menjadi media untuk membantu mengembangkan komunikasi dan interaksi sosial.
- Ciptakan Rasa Tenang. Musik juga dapat digunakan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman. Mendengarkan lagu saat beristirahat, setelah menjalani hari yang melelahkan, atau ketika sedang melakukan aktivitas ringan dapat membantu seseorang merasa lebih rileks.
Tidak Harus Musik Klasik
Jenis musik yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik individu. Anak-anak dapat menggunakan musik dengan melodi sederhana dan lirik yang mudah diikuti. Sementara itu, orang dewasa dapat menggunakan musik yang memang mereka sukai.
Pada remaja, berbagai genre musik juga dapat menjadi bagian dari proses mengekspresikan identitas dan perasaan.
Dengan demikian, tidak ada satu jenis musik yang berlaku untuk semua orang. Musik yang memberikan efek positif bagi kesehatan mental sangat bergantung pada kebutuhan, kondisi, dan preferensi masing-masing individu.





















