Jamur menjadi salah satu bahan makanan yang mudah ditemukan dalam berbagai hidangan. Mulai dari tumisan, sup, capcai, hingga makanan kekinian, jamur memiliki rasa gurih dan tekstur yang khas.
Namun, tidak semua jamur bisa dikonsumsi. Ada jenis jamur yang aman dimakan dan bahkan memiliki kandungan gizi, tetapi ada pula jamur liar yang mengandung racun dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Karena itu, penting untuk mengenali jenis jamur yang akan dikonsumsi. Dilansir dari laman Hello Sehat (3 Januari 2025), berikut beberapa jenis jamur yang umum digunakan sebagai bahan makanan.
1. Jamur Kancing
Jamur kancing (Agaricus bisporus) merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dikonsumsi dan mudah ditemukan di berbagai negara. Bentuknya bulat dengan warna putih atau cokelat muda, menyerupai kancing sehingga disebut jamur kancing.
Dalam masakan, jamur kancing dapat digunakan untuk membuat tumisan, sup, salad, hingga piza. Selain rasanya yang enak, jamur kancing juga mengandung sejumlah zat gizi, seperti vitamin D, vitamin B, serat, kalium, dan fosfor.
2. Jamur Tiram
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) termasuk jenis jamur yang cukup mudah dibudidayakan. Bentuknya menyerupai kipas dengan bagian tudung yang melebar. Jamur ini sering diolah menjadi jamur goreng tepung, tumisan, atau pepes.
Teksturnya lembut dan rasanya gurih sehingga mudah dipadukan dengan berbagai bumbu. Jamur tiram juga mengandung antioksidan dan beta-glukan. Selain itu, kandungan kalium di dalamnya turut mendukung pemeliharaan tekanan darah dan kesehatan jantung.
3. Jamur Shimeji
Jamur shimeji merupakan jenis jamur yang banyak digunakan dalam masakan Jepang dan negara Asia lainnya. Jamur ini umumnya dijual dalam dua jenis, yaitu shimeji putih dan shimeji cokelat. Jamur shimeji memiliki tekstur yang kenyal dan rasa umami atau gurih.
Dari sisi kandungan gizi, jamur shimeji mengandung protein dan serat. Jamur ini juga memiliki vitamin B1, B2, dan B3 yang berperan dalam proses tubuh menghasilkan energi dari makanan.
4. Jamur Shiitake
Jamur shiitake (Lentinula edodes) bentuknya seperti tudung lebar berwarna cokelat dengan bagian bawah yang lebih terang. Jamur shiitake juga mengandung senyawa seperti lentinan dan eritadenin. Lentinan diketahui berkaitan dengan fungsi sistem kekebalan tubuh, sedangkan eritadenin banyak diteliti karena potensinya dalam membantu menjaga kadar kolesterol.
5. Jamur Portobello
Jamur portobello sebenarnya merupakan bentuk dewasa dari jamur kancing. Ukurannya lebih besar dengan tudung lebar dan daging jamur yang lebih tebal. Teksturnya yang padat membuat jamur portobello kerap digunakan sebagai pengganti daging dalam berbagai menu.
Jamur ini juga mengandung kalium dan vitamin B. Kalium berperan dalam berbagai fungsi tubuh, sedangkan vitamin B membantu proses metabolisme energi dari makanan.
6. Jamur Merang
Jamur merang (Volvariella volvacea), seperti namanya, dibudidayakan menggunakan media jerami padi atau merang. Jamur merang berukuran relatif kecil dengan tekstur lembut dan rasa gurih. Bahan makanan ini sering ditemukan dalam tumisan, sup, dan capcai.
Jamur merang juga mengandung serat yang membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Selain itu, terdapat senyawa antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari efek radikal bebas.
7. Jamur Kuping
Jamur kuping (Auricularia spp.) mudah dikenali dari bentuknya yang menyerupai telinga. Teksturnya kenyal dan sedikit transparan, terutama setelah direndam atau dimasak.
Jamur kuping mengandung serat dan protein. Serat membantu mendukung kesehatan pencernaan, sementara protein dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan.
8. Jamur Enoki
Jamur enoki (Flammulina velutipes) memiliki bentuk yang khas, yaitu batangnya panjang dan tipis dengan bagian kepala kecil berwarna putih. Jamur ini sering digunakan dalam sup, hot pot, tumisan, dan berbagai masakan Asia.
Selain memiliki bentuk yang unik, jamur enoki juga mengandung serat, protein, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif.
Hati-Hati Jamur Liar
Tidak ada satu ciri fisik yang bisa digunakan untuk memastikan bahwa sebuah jamur liar beracun. Anggapan seperti jamur beracun selalu berwarna mencolok, memiliki bau menyengat, atau berubah warna ketika disentuh tidak dapat dijadikan patokan yang aman.
Karena itu, cara paling aman adalah menghindari jamur yang tidak diketahui identitasnya, terutama jamur liar yang ditemukan sendiri di hutan, halaman, kebun, atau tempat lain.
Jamur yang aman dikonsumsi sebaiknya berasal dari jenis yang memang dikenal sebagai bahan pangan dan diperoleh dari sumber yang terpercaya.
Dengan begitu, kita tidak hanya mendapatkan rasa dan tekstur yang lezat, tetapi juga mengurangi risiko keracunan akibat salah memilih jamur.




















