Sebuah kapal kargo berbendera Iran yang disita oleh angkatan laut Amerika Serikat (AS) diduga telah melakukan perjalanan melalui pelabuhan-pelabuhan di China. Hal ini menyoroti jalur pasokan yang berada di bawah pengawasan ketat, sebab para pejabat AS menyelidiki potensi kapal tersebut digunakan sebagai kapal kargo dwiguna.
Diketahui, kargo dwiguna, atau sering disebut barang dwiguna (dual-use goods), adalah produk, perangkat lunak, teknologi, atau material yang utamanya dirancang untuk tujuan sipil (keperluan sehari-hari/industri komersial), namun memiliki potensi untuk digunakan dalam konteks militer, pertahanan, atau pengembangan senjata.
Kapal yang ditahan itu yakni kapal Touska. Pasukan Amerika juga terus memeriksa kemungkinan besar bahwa kapal kargo tersebut dwiguna setelah perjalanan dari Asia.
Data pengiriman menunjukkan Touska melakukan beberapa pemberhentian baru-baru ini di Zhuhai, sebuah pelabuhan utama di China selatan, sebelum transit melalui Asia Tenggara dan menuju Iran. Menurut para analisis, jalur tersebut telah membantu Iran mempertahankan arus perdagangan meskipun ada tekanan AS.
Penyitaan ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menegakkan blokade angkatan laut terhadap Iran yang bertujuan untuk menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran global yang sangat penting.
Kapal tersebut terakhir kali berlabuh di Port Klang, Malaysia, pada 12 April dan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran ketika dicegat,”
kata seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, dikutip dari Fox News, Selasa, 21 April 2026.
Para analis mengatakan upaya untuk melintasi wilayah tersebut di tengah kehadiran angkatan laut AS yang aktif menunjukkan bahwa kargo tersebut mungkin menjadi prioritas.
Kapal itu mencoba menerobos blokade, yang tampaknya merupakan tindakan yang sangat bodoh, yang tampaknya menunjukkan bahwa ada sesuatu di atas kapal itu yang mungkin sangat mereka butuhkan di Iran,”
ujar Ray Powell, Direktur SeaLight, sebuah inisiatif transparansi maritim.
AS Klaim Perairan Selat Singapura Lemah Pengawasan
Powell mengatakan rute kapal melalui Malaysia patut diperhatikan, dan menggambarkan perairan di dekat Selat Singapura memang terkenal karena transfer antar kapal sebab penegakan hukum yang relatif lemah, sehingga taktik yang dapat membuat pergerakan kargo lebih sulit dilacak.
Ia menambahkan bahwa persinggahan kapal di Beijing menimbulkan pertanyaan tentang asal kargonya, meskipun apa yang ada di dalamnya masih belum diketahui.
Persinggahan kapal Touska di Tiongkok terjadi di tengah laporan sebelumnya yang mengidentifikasi pengiriman material dwiguna dari pelabuhan Tiongkok ke Iran, meskipun tidak ada bukti publik yang mengaitkan kargo kapal ini dengan pemasok tertentu.
Kemudian, pada Senin, 20 April 2026, China pun mengkritik pencegatan tersebut, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun memperingatkan bahwa situasi di Selat Hormuz tetap sensitif dan kompleks. Hal ini menandakan potensi gesekan diplomatik seiring meningkatnya perhatian seputar jalur perdagangan yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan China ke Iran.
Pasukan AS pun mencegat kapal tersebut setelah mengabaikan peringatan berulang kali untuk berhenti, menurut Komando Pusat AS.
Kapal Touska telah diperingatkan selama kurang lebih enam jam bahwa kapal tersebut melanggar blokade sebelum kapal perusak rudal Spruance memerintahkan awak kapal untuk mengevakuasi ruang mesin dan menembakkan beberapa peluru ke bagian kapal tersebut, dan melumpuhkan sistem propulsinya.
Marinir AS kemudian menaiki kapal dan mengambil alih kendali tanpa perlawanan.
Blokade Selat Hormuz, yang diumumkan setelah negosiasi dengan Iran gagal, menargetkan kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran dan dirancang untuk memutus perdagangan maritim sambil menghindari serangan langsung ke wilayah Iran. Ini adalah bagian dari kampanye militer yang lebih luas, yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury, yang diluncurkan pada akhir Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Lemahkan Kemampuan Militer untuk Dorong Iran ke Meja Perundingan
Operasi itu berfokus pada melemahkan kemampuan militer Iran sambil menggunakan tekanan ekonomi untuk memaksa konsesi di meja perundingan.
Strategi ini juga telah berlangsung bersamaan dengan gencatan senjata, yang ditengahi melalui pembicaraan yang melibatkan Pakistan, yang akan berakhir akhir pekan ini. Para pejabat AS berharap kampanye tekanan, termasuk blokade akan mendorong Iran untuk membuka kembali selat dan memajukan negosiasi perdamaian.
Namun, pencegatan Touska telah menggarisbawahi betapa cepatnya ketegangan dapat meningkat, dan menimbulkan pertanyaan baru tentang apakah gencatan senjata akan bertahan dan apakah tindakan penegakan hukum maritim dapat menggagalkan upaya diplomatik yang sedang berlangsung.
China, yang memosisikan diri sebagai mediator dalam konflik dan mempertahankan hubungan ekonomi yang erat dengan Iran, telah mengisyaratkan keprihatinan atas penyitaan tersebut, dan memperingatkan bahwa tindakan semacam itu dapat mempersulit upaya untuk menstabilkan kawasan dan membuka kembali jalur pelayaran utama.



