Puluhan ribu warga Serbia menggelar aksi demonstrasi di ibu kota Belgrade pada Sabtu, 23 Mei 2026, untuk memprotes pemerintah dan mendesak agar pemilu digelar lebih awal.
Aksi yang dipimpin mahasiswa ini merupakan lanjutan dari gerakan antikorupsi yang terus membesar sejak tragedi runtuhnya stasiun kereta Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.
Dilansir dari AlJazeera, demonstrasi bermula dari tuntutan soal transparansi terkait investigasi atas insiden di stasiun kereta Novi Sad. Tekanan publik bahkan sempat memaksa Perdana Menteri Serbia saat itu, Milos Vucevic untuk mengundurkan diri.
Namun, Presiden Serbia, Aleksandar Vucic justru mengambil sikap keras terhadap para demonstran.
Kini, Mahasiswa yang memimpin gerakan antikorupsi memperluas tuntutannya dengan mendesak Vucic untuk menggelar pemilu lebih cepat. Pekan ini, Vucic mengatakan pemilu kemungkinan digelar antara September hingga November tahun ini.
Massa memenuhi Slavija Square di pusat kota Belgrade dari berbagai arah. Banyak demonstran membawa spanduk dan mengenakan kaus bertuliskan slogan “Students win”.
Sejumlah iring-iringan kendaraan juga datang dari kota lain dan menuju Belgrade untuk bergabung dalam aksi.
Salah satu peserta aksi, Maja Milas Markovic mengatakan mahasiswa berhasil menyatukan masyarakat lewat semangat anak muda. Ia berharap warga Serbia bisa hidup lebih normal di tengah situasi politik yang memanas.
Kami bisa berkumpul di sini berkat semangat dan energi luar biasa dari para mahasiswa. Saya benar-benar percaya bahwa kami berhak hidup normal,”
kata Maja Milas Markovic.
Untuk membatasi kedatangan massa, perusahaan kereta api milik negara Serbia bahkan membatalkan seluruh perjalanan kereta menuju dan dari Belgrade pada hari aksi berlangsung.
Situasi mulai memanas pada malam hari, ketika bentrokan sporadis pecah di dekat gedung kepresidenan dan area taman tempat pendukung Vucic berkemah.
Aparat juga menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan massa, sementara sejumlah demonstran membakar tempat sampah di jalanan.
Sebelum aksi dimulai, muncul kekhawatiran bentrokan antara demonstran dan kelompok loyalis pemerintah yang sebelumnya beberapa kali dituduh menyerang mahasiswa peserta aksi.
Jurnalis Belgrade, Tetyana Kekic mengatakan gerakan mahasiswa mendapat dukungan luas dari publik karena dianggap mewakili perlawanan terhadap pemerintah.
Protes ini mendapat dukungan besar dari publik karena menjadi gerakan yang menyatukan banyak kelompok untuk melawan pemerintah,”
kata Kekic kepada Al Jazeera.
Meski begitu, menurutnya para demonstran masih menghadapi tantangan besar karena belum memiliki platform politik yang jelas maupun sosok pemimpin kuat yang benar-benar mampu menantang Presiden Serbia, Aleksandar Vucic.
Tekanan internasional terhadap pemerintah Serbia juga meningkat. Komisaris HAM Dewan Eropa, Michael O’Flaherty pekan ini mengkritik pendekatan keras pemerintah Serbia terhadap demonstran dan menyatakan akan memantau situasi secara ketat.
Di tengah upaya Serbia bergabung dengan Uni Eropa, hubungan dekat negara itu dengan Rusia dan China turut menjadi sorotan.
Uni Eropa bahkan memperingatkan kemunduran demokrasi di bawah pemerintahan Vucic bisa membuat Serbia kehilangan dana bantuan hingga 1,5 miliar euro.
Mahasiswa kini menyatakan siap menantang pemerintahan sayap kanan populis dalam pemilu mendatang.
Sementara itu, Vucic dan media pendukung pemerintah terus menuding para pengkritik sebagai “teroris” dan agen asing yang ingin menghancurkan negara, sehingga memperdalam polarisasi politik di Serbia.



