Ketegangan berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang selama lebih dari tiga bulan mengguncang pasar energi dunia disebut memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump mengklaim kedua negara bakal berdamai usai mencapai kesepakatan yang membuka jalan bagi normalisasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Minggu, 14 Juni 2026, melalui akun media sosial Truth Social. Menurutnya, kesepakatan yang dicapai akan memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama konflik menjadi titik krusial bagi distribusi minyak global.
Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,”
tulis Trump di TruthSocial dikutip dari Business Insider, Senin, 15 Juni 2026.
Trump bilang Selat Hormuz nanti bakal dibuka tanpa biaya tol.
Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, secara bersamaan, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,”
lanjut Trump.
Meski demikian, Trump belum membeberkan rincian lebih lanjut mengenai isi kesepakatan tersebut. Hingga kini, pemerintah Iran juga belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim yang disampaikan Trump.

Peran Pakistan
Adapun Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang berperan sebagai mediator mengungkapkan bahwa proses menuju implementasi kesepakatan sedang berlangsung.
Sharif mengatakan serangkaian pertemuan akan digelar dalam beberapa hari ke depan untuk membahas aspek teknis sebelum penandatanganan resmi yang dijadwalkan pada 19 Juni 2026.
Dengan adanya kesepakatan ini, para mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan minggu ini,”
tulis Sharif dalam sebuah unggahan di X.
Diskusi pra-implementasi ini akan meletakkan dasar untuk pembicaraan teknis dan upacara penandatanganan resmi,”
kata Sharif.
Sementara, AS diketahui masih menginginkan jaminan dari Teheran terkait penghentian aktivitas pengayaan uranium. Namun, belum ada kejelasan apakah isu tersebut telah masuk dalam kesepakatan awal yang diumumkan pada Minggu.
Konflik 15 Pekan
Konflik antara AS dan Iran meletus setelah serangan mendadak gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran tak tinggal diam dengan melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah aset militer AS di Kawasan Teluk.
Sebagai respons, Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz. Teheran juga secara efektif menutup jalur tersebut bagi sebagian besar aktivitas pelayaran internasional.
Meski sempat dibuka kembali pada April sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, Selat Hormuz kembali ditutup setelah AS menerapkan blokade angkatan laut di kawasan tersebut.
Sebagai penghubung antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Kontrol Iran atas jalur vital itu memberikan pengaruh ekonomi yang besar selama konflik berlangsung. Dampaknya tak hanya dirasakan negara-negara di kawasan Timur Tengah, tapi juga memicu gejolak pasar energi dunia.
Penutupan Selat Hormuz, ditambah kerusakan sejumlah fasilitas minyak utama di kawasan, memicu lonjakan tajam harga energi global. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan tersebut sebagai salah satu krisis terbesar dalam sejarah pasar minyak modern.
Pada 8 Maret 2026, harga minyak dunia sempat menembus level 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Kenaikan tersebut memaksa sejumlah negara mengambil langkah penghematan energi.
Filipina merupakan salah satu negara yang terdampak langsung. Negara tetangga Indonesia itu bahkan menerapkan kebijakan empat hari kerja bagi pegawai pemerintah sebagai upaya menekan konsumsi energi.
Di AS, rata-rata harga bensin nasional melampaui 4 dolar AS per galon pada akhir Maret. Sementara itu, harga bahan bakar pesawat melonjak hingga menembus 200 dolar AS per barel pada April. Kondisi itu memaksa maskapai penerbangan memangkas sejumlah rute serta menaikkan harga tiket.
Krisis energi yang dipicu konflik tersebut juga memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Amerika Serikat. Inflasi Negeri Paman Sam bahkan melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Apabila kesepakatan yang diklaim Trump benar-benar terealisasi dan Selat Hormuz kembali beroperasi penuh, pasar global berharap pasokan energi dapat kembali stabil. Selain itu, bisa meredakan tekanan terhadap harga minyak dunia yang selama berbulan-bulan menjadi perhatian utama negara-negara konsumen energi.


