Konflik antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kembali memakan korban di pihak militer AS. Sedikitnya 12 personel militer AS dilaporkan mengalami luka serius.
Belasan tantara itu terluka parah akibat serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran yang menghantam sejumlah pangkalan militer di kawasan tersebut sepanjang Juli 2026.
Dari laporan Middle East Monitor, Jumat, 24 Juli 2026, para prajurit yang mengalami luka berat telah dievakuasi ke rumah sakit militer AS di Jerman untuk menjalani perawatan intensif.
Seorang pejabat militer AS mengungkapkan belasan tantara itu bagian dari total sekitar 100 personel militer yang terluka dalam serangkaian serangan Iran sejak awal Juli.
Mereka termasuk di antara sekitar 100 anggota militer yang telah terluka dalam serangan Iran sejak awal Juli,”
kata pejabat tersebut.
Pangkalan AS di Yordania Jadi Sasaran
Pejabat militer itu menjelaskan, salah satu serangan terbaru menyasar pangkalan militer AS di Yordania yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS.
Selain itu, penyelidikan terhadap serangan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, masih terus berlangsung. Dalam insiden itu, tiga tentara AS dilaporkan tewas. Sementara, beberapa personel lainnya mengalami luka-luka.
Tak hanya di Yordania, dampak serangan juga dirasakan di sejumlah instalasi militer Amerika lainnya di kawasan Timur Tengah.
Menurut pejabat tersebut, sistem radar di Pangkalan Udara Ahmad Al Jaber, Kuwait, dilaporkan hancur sekitar 20 Juli 2026. Padahal, fasilitas itu baru beroperasi sekitar enam bulan.
Sementara itu, sebuah gudang di fasilitas angkatan laut AS di Bahrain turut menjadi sasaran serangan.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, meski dalam skala terbatas.
Di Irak, sebuah tenda militer berukuran besar yang berada di kompleks militer AS di dalam Bandara Internasional Erbil juga dilaporkan hancur akibat serangan.
Rangkaian serangan tersebut menunjukkan meningkatnya intensitas konflik yang melibatkan fasilitas militer AS di Timur Tengah, di tengah eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran yang terus berlanjut.






















