Abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah membuat masyarakat perlu meningkatkan perlindungan saat beraktivitas di luar ruangan.
Salah satu caranya dengan mengenakan masker. Namun, penggunaan masker untuk menghadapi abu vulkanik tidak bisa dilakukan sembarangan.
Epidemiolog sekaligus peneliti dari Griffith University Australia, dr. Dicky Budiman, B.Med., M.D., M.Sc.P.H., Ph.D., mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa abu vulkanik berbeda dengan debu yang biasa ditemui sehari-hari.
Mengandung Silika
Menurut Dicky, abu vulkanik mengandung silika yang karakteristiknya menyerupai serpihan kaca dengan permukaan tajam. Karena itu, paparan abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan.
Dalam waktu paparan langsung, jika abunya banyak, akan menimbulkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk kering, rasa tidak nyaman di dada. Bahkan, orang sehat pun bisa mengalami keluhan seperti ini, disertai batuk dan iritasi yang meningkat seiring dengan paparan yang makin sering atau lama,”
jelas Dicky dalam keterangannya, Selasa 08 September 2026.
Untuk menyaring abu vulkanik, Dicky merekomendasikan penggunaan masker respirator dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95 dan N99, atau masker lain yang memiliki efisiensi setara.
Yang saya rekomendasikan maskernya adalah masker respirator bersertifikasi industri setara N95 atau FFP2 di standar Eropa. Jadi, bukan masker bedah biasa. Ini juga sudah ada risetnya dari Durham University yang secara spesifik menguji abu vulkanik,”
ucapnya.
Filtrasi Masker N95
Dicky menjelaskan, tingkat efisiensi filtrasi masker N95 dan N99 terhadap abu vulkanik dapat mencapai lebih dari 98 persen. Kemampuan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan masker bedah maupun masker kain.
Efisiensi N95 dan N99 equivalent jauh sekali di atas masker bedah biasa, yang hanya di kisaran 89–91 persen dan masker kain apa pun itu. Kalau masker kain dipakai, efisiensi filtrasinya hanya 44 persen. Jadi, saya tidak menyarankan masker kain. Usahakan masker N95 atau N99,”
papar Dicky.
Masker bedah dinilai kurang direkomendasikan bukan hanya karena kemampuan filtrasinya lebih rendah, tetapi juga karena bentuknya cenderung longgar ketika dikenakan di wajah.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan celah atau kebocoran pada sisi masker. Akibatnya, abu vulkanik berpotensi masuk ke saluran pernapasan melalui celah tersebut.
Namun, penggunaan N95 juga tidak otomatis memberikan perlindungan maksimal. Dicky mengingatkan, efektivitas filtrasi masker tersebut akan berkurang apabila masker dikenakan secara longgar dan tidak menempel dengan baik pada wajah.
Jadi, artinya kerapatan di wajah itu jauh lebih menentukan proteksi nyata dibandingkan jenis material filter. Masker N95 ini sudah bagus, tapi kalau dipakainya longgar, dia bisa jadi tidak lebih baik dari masker bedah yang dipakai dengan pas,”
tutup Dicky.






















