Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 25 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Rencana Haji di Bawah Komando dan Potensi ASN Tergusur dari Urusan Haji
Nasional

Rencana Haji di Bawah Komando dan Potensi ASN Tergusur dari Urusan Haji

iren natania longdongAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Januari 15, 2026 5:38 pm
By
Natania Longdong
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id,...
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
5 bulan lalu
Share
Jamaah haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi
Jamaah haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Minggu (15/6/2025). Menurut Saudi Press Agency, kapasitas Masjidil Haram pada tahun 2025, setelah perluasan tahap ketiga selesai, mencapai tiga juta orang per hari dengan adanya peningkatan luas area Masjidil Haram dari 414.000 meter persegi menjadi 1,5 juta meter persegi. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc.)
SHARE

Wacana petugas penyelenggara ibadah haji didominasi atau bahkan seluruhnya berasal dari unsur TNI dan Polri seperti yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto, harus mempunyai batasan yang jelas.

Daftar isi Konten
  • Pembenahan Seleksi Petugas Sipil
  • Tak Sejalan dengan Layanan Publik Sosial-Keagamaan
  • Pengembangan Kapasitas ASN Bakal Melempem

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta (UPNVJ), Achmad Nur Hidayat, mengungkapkan jika pelibatan TNI-Polri tidak dibatasi secara ketat pada perlindungan dan kedaruratan lalu masuk ke inti layanan, akan membuka ruang mission creep, yang berarti hari ini haji, besok layanan publik lain.

Pada akhirnya, birokrasi sipil kehilangan panggung untuk bertumbuh, sementara negara makin bergantung pada solusi instan berbasis pengerahan, bukan perbaikan sistem.

Lebih jauh, ada dampak lain yang sering luput, seperti psikologi organisasi. Ketika ASN Kemenag atau Kemenhaj melihat bahwa tugas layanan yang strategis cenderung diberikan ke luar jalur sipil, pesan yang ditangkap adalah sinis.

Ngapain kita dilatih, toh nanti diganti. Di situlah pengembangan kapasitas mati pelan-pelan,” 

ungkap Achmad, kepada owrite.

Ia menilai, padahal seharusnya kebijakan yang baik memacu profesionalisme ASN, bukan meminggirkannya. Nilai dasar ASN yang berorientasi pelayanan seharusnya diterjemahkan menjadi investasi serius dalam pelatihan, sertifikasi, dan manajemen kinerja petugas haji sipil, bukan sekadar slogan di dinding kantor.

Di sisi lain, jika memang ada kebutuhan ketangguhan fisik, hal itu dapat dibangun sebagai standar kompetensi petugas haji sipil.

Tidak ada yang melarang membuat seleksi kebugaran yang wajar, pelatihan ketahanan panas, latihan prosedur evakuasi, dan simulasi krisis. Itu semua reformasi manajemen SDM, bukan substitusi aktor.

Sampai hari ini, argumen yang dominan di ruang publik adalah klaim evaluatif, petugas TNI Polri dinilai disiplin, bertanggung jawab, dan mendapat poin positif,”

ujar Achmad.

Menurutnya, klaim ini bisa benar, tetapi kebijakan publik tidak boleh berhenti di kesan. Apalagi ketika wacana berubah dari penambahan terbatas menjadi dominasi.

Soal Wacana Dominasi TNI–Polri dalam Haji: Solusi Disiplin atau Gejala Militerisasi Layanan Publik?

Yang justru diperlukan adalah pembuktian berbasis indikator layanan yang sederhana tetapi nyata, kecepatan respons kasus jemaah tersesat, ketepatan informasi layanan, jumlah keluhan yang selesai, kualitas pendampingan kelompok rentan, hingga kepuasan jemaah yang diukur dengan metode yang rapi.

Tanpa hal itu, negara akan mudah terjebak pada ilusi karena seragam terlihat rapi, layanan dianggap pasti membaik.

Saya tidak sedang berargumen bahwa TNI Polri tidak boleh terlibat sama sekali. Dalam kerumunan besar dan situasi berisiko, unsur keamanan bisa menjadi penguat,”

kata Achmad.

Tetapi, sambungnya, garisnya harus tegas, penguatan perlindungan jemaah dan kedaruratan, bukan pengambilalihan layanan inti. Jika tujuan pemerintah adalah peningkatan kualitas layanan, fokus kebijakannya seharusnya kembali ke reformasi yang membangun kapasitas, bukan mengganti aktor.

Pembenahan Seleksi Petugas Sipil

Achmad pun meminta adanya pembenahan seleksi petugas sipil yang berbasis kompetensi dan integritas, dan perkuat pelatihan yang menyentuh komunikasi layanan dan manajemen krisis, rapikan SOP dan evaluasi, membuat insentif yang memuliakan kinerja pelayanan, lalu tempatkan unsur keamanan sebagai mitra dalam domain yang tepat.

Dengan demikian, disiplin tidak lagi menjadi atribut institusi tertentu, melainkan hasil dari sistem yang bekerja.

Di titik itulah kita bisa menjawab pertanyaan awal dengan jernih. Pelibatan TNI Polri bisa sejalan dengan prinsip layanan publik sipil bila ia dibatasi pada fungsi perlindungan yang jelas, akuntabel, dan berada dalam kerangka kendali sipil,”

papar Achmad.

Namun jika dibiarkan menjadi dominasi, ia berpotensi memundurkan agenda reformasi birokrasi, mematikan pengembangan kapasitas ASN, dan menggeser pendekatan layanan dari melayani jemaah menjadi mengendalikan jemaah.

Tak Sejalan dengan Layanan Publik Sosial-Keagamaan

Sementara itu, Pengamat dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai, secara prinsip, dominasi aparat keamanan tidak sepenuhnya sejalan dengan karakter penyelenggaraan haji sebagai layanan publik sosial-keagamaan.

Penyelenggaraan haji adalah layanan publik sipil berbasis pelayanan sosial dan keagamaan, bukan fungsi keamanan. Reformasi birokrasi pasca 1998 justru bertujuan menarik negara keluar dari pendekatan koersif menuju pendekatan pelayanan,”

ujar Ronny kepada owrite.

Menurutnya, jika dominasi aparat keamanan diperluas tanpa batas yang jelas, kebijakan tersebut berisiko menjadi kemunduran dari agenda demiliterisasi urusan sipil yang selama ini menjadi fondasi reformasi sektor publik di Indonesia.

Ronny mengingatkan, bahwa risiko terbesar dari pelibatan masif TNI–Polri dalam penyelenggaraan haji adalah pergeseran paradigma.

Haji adalah pengalaman religius yang sarat emosi, kerentanan fisik, dan kebutuhan empati. Pendekatan hierarkis dan komando, yang lazim dalam institusi militer, berpotensi mengubah relasi pelayanan menjadi relasi pengendalian,”

katanya.

Ia menilai, pendekatan semacam itu bisa mengikis rasa aman psikologis jemaah, khususnya kelompok lanjut usia dan kelompok rentan, yang justru membutuhkan pendampingan berbasis kesabaran, empati, dan sensitivitas budaya.

Aparat keamanan, lanjut Ronny, memang unggul dalam ketertiban dan kepatuhan. Namun pelayanan haji menuntut kompetensi yang berbeda, seperti komunikasi interpersonal, fleksibilitas, kemampuan menangani situasi emosional, serta pemahaman konteks sosial-keagamaan jemaah.

Tanpa pelatihan khusus pelayanan sosial-keagamaan, ada risiko jemaah diperlakukan sebagai objek pengaturan, bukan subjek yang dilayani,”

paparnya.

Lalu, bagaimana soal disiplin dan ketangguhan persepsi politik?

Alasan utama yang sering dikemukakan untuk melibatkan TNI–Polri adalah disiplin dan ketangguhan fisik. Namun Ronny menilai, argumen ini lebih bersifat persepsi politik daripada kesimpulan berbasis data.

Tidak ada bukti, bahwa secara sistemik petugas sipil haji kurang disiplin atau tidak tangguh. Banyak masalah haji justru bersumber pada desain kebijakan, koordinasi antar lembaga, sistem logistik, dan tata kelola, bukan semata kualitas individu petugas,”

tegas Ronny.

Ia juga menekankan, bahwa hingga kini belum ada bukti empiris kuat bahwa pelibatan penuh TNI–Polri otomatis meningkatkan kualitas layanan haji.

Pengalaman internasional justru menunjukkan, bahwa layanan haji yang baik ditopang oleh manajemen sipil profesional, sistem digital yang andal, dan pelatihan pelayanan yang manusiawi.

Tanpa desain kebijakan yang matang, pelibatan aparat justru bisa memunculkan masalah baru seperti miskomunikasi, ketegangan sosial, bahkan resistensi dari jemaah,”

tambahnya.

Ronny pun menyoroti implikasi kebijakan tersebut terhadap profesionalisme aparatur sipil negara (ASN), khususnya di Kementerian Agama atau lembaga penyelenggara haji.

Pengembangan Kapasitas ASN Bakal Melempem

Jika peran strategis petugas sipil terus digeser, maka insentif pengembangan kapasitas ASN akan melemah. Jalur karier bisa buntu, motivasi menurun, dan negara gagal membangun institusi sipil yang kompeten.

Dalam jangka panjang, negara justru menjadi tergantung pada aparat keamanan untuk fungsi non-keamanan,”

ujarnya.

Selain itu, normalisasi peran militer dan polisi dalam layanan publik dinilai berisiko mengaburkan batas antara fungsi keamanan dan fungsi sipil dalam negara demokratis.

Dalam demokrasi, militer dan polisi tunduk pada prinsip subsidiaritas, terlibat hanya jika dibutuhkan, bersifat temporer dan fungsional, bukan menggantikan peran sipil,”

tegas Ronny.

Ronny menilai, solusi paling rasional untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji bukanlah mengganti petugas sipil dengan aparat keamanan, melainkan mereformasi sistem yang ada.

Reformasi itu, menurutnya, meliputi peningkatan pelatihan berbasis pelayanan jemaah, seleksi petugas berbasis kompetensi dan empati, sistem insentif yang adil dan transparan, serta evaluasi kinerja berbasis data.

Mengganti petugas sipil dengan aparat keamanan adalah solusi instan, tetapi tidak menyentuh akar masalah tata kelola.

Negara yang kuat bukan negara yang mengandalkan militer untuk semua urusan, melainkan negara yang mampu membangun birokrasi sipil yang profesional, disiplin, dan manusiawi,”

pungkasnya.
Tag:Ibadah hajipetugas hajiPolriPrabowo SubiantoPresidenSpillTNI
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Follow:
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id, ia dikenal lewat reportase mendalam soal bisnis, pertambangan, dan dampak kebijakan energi terhadap masyarakat.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Geger Pengakuan BEM UBK soal Duit Demo, Gibran Diminta Buka Fakta Sebenarnya, Berani?
By Hardani Triyoga
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026).
1
Sadis Aniaya Pacar, Taufik Akan Diperiksa Kejiwaan dan Ditahan di Sel Khusus
By Rahmat Baihaqi
Petugas menggiring tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat (tengah) setibanya di Polda Jabar, Bandung.
2
Harga Gas Industri Meroket, DPR Turun Tangan Usai 55 Ribu Buruh Terancam PHK
By Rika Pangesti
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco (kedua kanan) dan Cucun Ahmad Syamsurijal (kanan) tiba untuk menyampaikan keterangan pers terkait potongan komisi untuk layanan ojek online (ojol) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
3
Prabowo Ungkap Ciri Koruptor: Biasanya Orang Pintar Tahu Cara Mencuri
By Rahmat Baihaqi
Presiden Prabowo hadir dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan, di Gorontalo, 24 Juni 2026.
4
2 Peserta SPPI Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal saat Latihan Militer, Begini Penjelasan Kemhan
By Rahmat Baihaqi
Gedung Koperasi Merah Putih Kelurahan Baruga yang telah rampung dibangun di Kendari, Sulawesi Tenggara
5

BERITA LAINNYA

Orang tua siswa berdiri di depan layar informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Manusia Unggul (Maung) di SMKN 1 Cimahi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2026).
Nasional

Fenomena Aneh Terungkap, Ribuan Kursi PTN Terancam Kosong karena Peserta Menghilang

Tingginya jumlah peserta yang lolos seleksi perguruan tinggi negeri (PTN) tetapi tak…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
7 jam lalu
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal
Nasional

Nasib 4 PMI di Somalia Belum Jelas, DPR Desak Kemlu Tunjuk Negosiator Khusus

Nasib empat Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang disandera di Somalia selama dua…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
7 jam lalu
Wakil Rektor UI Prof Hamdi Muluk.
Nasional

Kesenjangan Masuk Kampus Jadi Alarm, DPR Bongkar Masalah Akses Pendidikan Tinggi

Kesenjangan akses pendidikan tinggi di Tanah Air jadi sorotan DPR RI dan…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
7 jam lalu
Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna menjelaskan pertemuan tertutup Menkeu Purbaya dengan JA ST Burhanuddin.
Nasional

100 SPPG Diduga Bodong, Lokasinya Ada di Hutan hingga Tengah Kuburan, Mau Kasih Makan Hantu?

Sebanyak 100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga fiktif tersebar di kawasan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Baihaqi
Amin Suciady
8 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up