Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 1 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • prabowo
  • MBG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Miris, Pekerja Migran RI Masih Rentan Eksploitasi, Migrant CARE Soroti Kebijakan Pemerintah
Nasional

Miris, Pekerja Migran RI Masih Rentan Eksploitasi, Migrant CARE Soroti Kebijakan Pemerintah

hadi-febriansyah-owriteSyifa Fauziah
Last updated: Mei 1, 2026 6:12 pm
Hadi Febriansyah
Syifa Fauziah
Share
Ilustrasi pekerja migran
Ilustrasi pekerja migran (Foto: Freepik)
SHARE

Dalam momentum May Day 2026, Migrant CARE kembali menyoroti lemahnya perlindungan negara terhadap pekerja migran Indonesia. Organisasi tersebut menilai, hingga kini pemerintah belum mampu memberikan jaminan perlindungan yang komprehensif, terutama bagi pekerja migran.

Selain itu, Migrant Care juga menjelaskan bahwa generasi muda semakin rentan menjadi korban eksploitasi, perdagangan orang, kerja paksa, hingga praktik forced criminality lintas negara.

Migrant CARE menilai kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang memprioritaskan anggaran pada program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih justru berdampak pada berkurangnya alokasi di sektor perlindungan sosial.

“Pengalihan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini dinilai menyebabkan penurunan signifikan pada pembiayaan sektor penting, seperti jaminan sosial, perlindungan pekerja migran, penanganan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Akibatnya, perlindungan terhadap kelompok rentan dinilai semakin melemah,”

tulis keterangan dari Migrant Care.

Ancaman Baru: Forced Criminality di Kawasan Mekong

Menurut Migrant CARE, isu ketenagakerjaan saat ini tidak hanya sebatas tuntutan kenaikan upah, tetapi juga terkait minimnya ketersediaan pekerjaan layak di dalam negeri.

Kondisi tersebut mendorong jutaan anak muda menjadi pengangguran. Lebih parah lagi, sebagian dari mereka terjebak dalam praktik forced criminality, yakni dipaksa melakukan tindakan kriminal seperti penipuan di bawah kendali jaringan tertentu.

Fenomena ini banyak terjadi di kawasan Mekong, meliputi Myanmar, Kamboja, dan Laos. Modus ini disebut sebagai bentuk terbaru perdagangan orang yang memanfaatkan platform digital untuk merekrut korban.

“Ironisnya, hingga saat ini belum ada payung hukum yang secara spesifik melindungi korban forced criminality. Para pelaku justru masih leluasa beroperasi, bahkan diduga terhubung dengan praktik ekonomi ilegal seperti judi online,” tambah pernyataan tersebut.

Legislasi Dinilai Lambat, Revisi UU TPPO Belum Prioritas

Di tingkat parlemen, dorongan untuk merevisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) belum mendapat perhatian serius.

Padahal, jumlah kasus TPPO terus meningkat, terutama yang berkaitan dengan praktik forced criminality.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan perlindungan di lapangan dengan respons kebijakan yang ada. Secara kelembagaan, perubahan dari BP2MI menjadi KP2MI masih dalam tahap konsolidasi.

Proses penyesuaian fungsi dan koordinasi antar lembaga dinilai belum stabil, sehingga berdampak pada efektivitas perlindungan pekerja migran di lapangan. Situasi ini semakin kompleks setelah adanya pergantian menteri pada 8 September 2025, yang turut memengaruhi arah kebijakan.

Migrant CARE bahkan menilai terjadi pergeseran paradigma, dari fokus perlindungan menjadi orientasi pengiriman tenaga kerja secara besar-besaran, dengan target mencapai 500.000 pekerja migran per tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa migrasi kerap dijadikan solusi cepat atas krisis lapangan kerja dalam negeri. Namun di sisi lain, negara dinilai belum hadir secara optimal dalam memastikan perlindungan terhadap warganya yang bekerja di luar negeri.

Berdasarkan berbagai persoalan tersebut, Migrant CARE menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah:

  1. Melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan pekerja migran, termasuk implementasi penuh UU PPMI, penguatan diplomasi perlindungan, dan penciptaan lapangan kerja layak di dalam negeri.
  2. Mengakui forced criminality sebagai bagian dari TPPO, agar korban tidak dikriminalisasi serta mendapatkan perlindungan hukum dan pemulihan yang layak melalui revisi UU TPPO.
  3. Memastikan alokasi anggaran yang memadai, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk perlindungan pekerja migran, termasuk pencegahan TPPO, bantuan hukum, jaminan sosial, serta reintegrasi korban.
  4. Memperkuat diplomasi berbasis Hak Asasi Manusia di negara-negara tujuan pekerja migran.

Tag:APBNforced criminalityMay Day 2026pekerja migran indonesiaPrabowo Subianto
Share This Article
Email Salin Tautan Print
hadi-febriansyah-owrite
ByHadi Febriansyah
Reporter
Follow:
Jurnalis OWRITE yang meliput pemberitaan seputar dunia Olahraga mulai dari Sepak Bola, hingga Bulu Tangkis.
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) didampingi Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban (kiri), Ketua Umum KSPSI sekaligus Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat (kedua kiri), Presiden KSPSI AGN Andi Gani Nena Wea (ketiga kiri), Presiden KSPI Said Iqbal (kedua kanan) dan Ketua Umum KPBI Ilhamsyah (kanan) memberikan sambutan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Nasional

Viral Potongan Video Prabowo Bahas MBG Saat May Day, Respon Netizen Ngeri Banget

Presiden Prabowo menghadiri acara peringatan Hari Buruh Internasional yang berlangsung di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Jumat, 1 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan pidato, salah satunya menyinggung program Makan…

By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
2 Min Read
KA Argo Bromo Anggrek
Daerah

Terjadi Lagi, Kereta Argo Bromo Tabrak Sebuah Mobil di Grobogan Jateng

Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasarturi menabrak sebuah mobil di perlintasan sebidang JPL 52 KM 29+800, antara Stasiun Panunggalan dan Stasiun Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, pada Jumat,…

By
Iren Natania
Amin Suciady
1 Min Read
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). (Sumber: Unsplash/Wim van 't Einde)
Daerah

Di Balik Pensiun Dini PLTU, ICW Curiga Ada Potensi Mark-Up Kompensasi PLTU

Memperingati Hari Keterbukaan Informasi Publik, organisasi sipil menyoroti defisit transparansi dalam agenda pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berpotensi mengakibatkan kerugian keuangan negara. Klasifikasi rahasia atas dokumen Perjanjian…

By
Dusep
Adi Briantika
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi (kedua kiri), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat (kanan) menyapa massa buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Nasional

Taksir Biaya Massa May Day Tembus Rp45 M, Baranusa: Rakyat Perlu Tahu Sumbernya!

Ketua Umum Barisan Rakyat Nusantara (Baranusa) Adi Kurniawan menyorot dugaan biaya pengerahan…

dusep-malikowrite-adi-briantika
By
Dusep
Adi Briantika
2 jam lalu
Relawan mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Nasional

Lagi-lagi BGN Bikin Geram Netizen, Pengadaan Anggaran IT MBG Capai Rp1,2 Triliun

Pemberitaan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak henti-hentinya bikin netizen geram.…

dusep-malikSyifa Fauziah
By
Dusep
Syifa Fauziah
2 jam lalu
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saurlin P. Siagian (kiri) dan Koordinator Subkomisi Penegakan HAM sekaligus Komisioner Mediasi Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi (kanan).
Nasional

Bukannya Dilindungi Malah Diseleksi, Komnas HAM Semprot Wacana Tim Asesor Pembela Hak Asasi

Menteri HAM Natalius Pigai, merencanakan pembentukan tim asesor untuk menilai dan menetapkan…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
2 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) didampingi Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban (kiri), Ketua Umum KSPSI sekaligus Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat (kedua kiri), Presiden KSPSI AGN Andi Gani Nena Wea (ketiga kiri), Presiden KSPI Said Iqbal (kedua kanan) dan Ketua Umum KPBI Ilhamsyah (kanan) memberikan sambutan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Nasional

Prabowo Tanya Manfaat MBG Saat May Day, Jawaban Buruh di Luar Dugaan

Peringatan Hari Buruh Internasional yang berlangsung di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Jumat…

Amin Suciady
By
Amin Suciady
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up