Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mendorong pemerintah segera mengadopsi intervensi pedagogis untuk mengatasi krisis kognitif pada anak-anak Indonesia.
Intervensi ini dinilai penting, agar pemenuhan gizi fisik melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) seimbang dengan kualitas nalar dan kecerdasan murid.
Intervensi yang paling jelas yaitu pembelajaran mendalam. Karena selama ini proses pembelajaran di sekolah, menurut laporan Bank Dunia, yaitu schooling without learning. Anak-anak bersekolah tetapi mereka tidak mendapatkan pembelajaran berkualitas,”
kata Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim, kepada Owrite.id, Senin, 4 Mei 2026.
Bank Dunia dalam Human Capital Indeks (2020), memproyeksikan anak-anak Indonesia yang lahir 2020-an hanya mampu menggunakan potensi produktivitas sebesar 54 Persen pada 2038 (jauh di bawah Singapura sebesar 88 persen dan rata-rata dunia 56 persen).
Posisi Indonesia juga di bawah Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Kondisi ini menghambat cita-cita menuju Generasi Emas 2045.
Buruknya kemampuan literasi dan numerasi anak-anak Indonesia, secara ekonomi dapat menyebabkan potential loss periode 2025-2029 sampai Rp1.123,4 triliun.
Hal itu merujuk perhitungan dalam laporan World Literacy Foundation (2022) berjudul The Economic and Social Cost of Illiteracy, kalkulasi kerugian akibat buta membaca dan buta matematika, diasumsikan pada 1,2 persen dari GDP Indonesia.
Indonesia dikategorikan sebagai negara emerging (menuju negara maju) dengan GDP sebesar USD 1,139 triliun (2022). Tahun 2025, GDP Indonesia naik menjadi 1,443 triliun.
Jangan sampai menuju 2045, anak-anak Indonesia badannya sehat karena MBG, tapi nalarnya rusak karena tidak mampu memahami apa yang dibaca dan lemah dalam memahami atau menghitung angka-angka. Ini generasi paradoks,”
ucap Satriwan.
Karena pembelajaran yang didapatkan oleh murid-murid itu baru pembelajaran yang levelnya surface learning. Indonesia harus bertransformasi dari surface learning menuju deep learning yang membangun nalar kritis dan kesadaran untuk berpikir.
Siswa dapat berpikir kritis yang membangun kebermaknaan di dalam pembelajaran, yang mereka pelajari itu ada relasi secara kontekstual dengan kehidupan nyata.
Sehingga mereka mampu membangun kemampuan untuk pemecahan masalah secara hayat berdasarkan pembelajaran di kelas.
Bagaimana pembelajaran itu bermakna, yang kemudian membangun animo anak untuk belajar, terbangun inspirasinya ketika belajar. Konteks seperti inilah yang harus dibangun ekosistemnya oleh guru melalui pendekatan pembelajaran mendalam,”
ucap Satriwan.
Pelatihan guru jangan lagi bersifat business as usual, melainkan dengan prinsip berkualitas, berdampak, berkelanjutan, pendampingan, evaluasi, dan tindak lanjut guna membenahi kompetensi guru, membangun kualitas proses pembelajaran termasuk dalam aspek literasi-numerasi, dan mutu hasil belajar murid.
Pelatihan tersebut mesti melibatkan organisasi profesi guru dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) secara sinergis dan berkelanjutan.
Pembelajaran yang didapatkan haruslah bermakna bagi murid, membangun kesadaran kritis, murid mampu mencari solusi atas persoalan kontekstual, serta yang dialogis dan menarik.
Ekosistem pembelajaran seperti inilah yang dibangun melalui pendekatan pembelajaran mendalam.


