Aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026 diwarnai dengan tudingan adanya pelarangan terhadap pelajar yang ingin bergabung menyampaikan aspirasi bersama mahasiswa.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (Badko HMI MPO) Jabodetabek, Chairul Ulum, saat berorasi di hadapan massa aksi.
Menurut Chairul, rombongan pelajar dari Kota Bekasi yang hendak mengikuti demonstrasi sempat dicegah aparat kepolisian. Ia mengaku membawa sekitar 50 pelajar yang ingin turut hadir dalam aksi tersebut.
Tadi kami juga membawa 50 pelajar dari Kota Bekasi. Kami di sana dijegal oleh Polda. Katanya apa? Nggak boleh pelajar, nggak boleh ikut demo. Mereka bilang, pelajar nggak punya pengetahuan,”
kata Chairul dalam orasinya di depan Gedung DPR RI.
Pernyataan itu langsung mendapat respons dari para mahasiswa yang hadir dalam aksi. Chairul menilai alasan pelarangan tersebut justru meremehkan kemampuan generasi muda dalam memahami persoalan bangsa dan kehidupan bernegara.
Ia mempertanyakan logika pembatasan terhadap pelajar yang ingin belajar menyampaikan pendapat di ruang publik serta ikut terlibat dalam isu-isu kebangsaan.
Bayangkan, generasi pelajar SMA, kita dijegal nggak boleh ikut aksi sama abang-abang mahasiswa. Karena apa katanya? Mereka nggak diizinkan oleh orang tua. Hei, polisi! Saya katakan, tidak perlu diizinkan untuk membela negara,”
ujarnya.


Hambat Kesadaran Kritis
Chairul menilai pembatasan terhadap pelajar untuk ikut menyampaikan aspirasi berpotensi mematikan semangat kritis generasi muda. Menurutnya, pelajar dan mahasiswa punya hak untuk memahami persoalan publik serta membangun kesadaran politik sejak dini.
“Mereka takut generasi kita hari ini cerdas seperti kita semua. Oleh karena itu, mereka menjegal hal itu,”
ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan apabila ruang kritik terus dibatasi, Indonesia berisiko kehilangan generasi yang berani berpikir kritis dan menyuarakan kepentingan publik.
Bayangkan, hal ini apabila terjadi setiap hari, setiap tahun, setiap detik, maka akan mati orang-orang yang memiliki daya akal kritis kita,”
katanya.
Chairul juga mengajak mahasiswa agar tak hanya fokus pada isu politik dan kebijakan pemerintah. Tapi, turut menjaga ruang kebebasan berpikir bagi generasi muda.
Menurut dia, mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai agen kontrol sosial yang mendampingi masyarakat, termasuk pelajar, dalam memahami berbagai persoalan kebangsaan.
Kita sebagai mahasiswa tentunya harus hadir untuk mengawal, memberikan perhatian kepada mereka, memberikan pengawal kecerdasan sebagai social control,”
ujarnya.
Chairul menambahkan, gerakan mahasiswa harus tetap berpihak kepada rakyat dan menjadi jembatan antara suara masyarakat dengan para pengambil kebijakan.
Teman-teman mahasiswa yang hadir di sini, satu suara untuk menuntut apa yang kita tuntut,”
katanya.
Pun, dalam orasi penutupnya, Chairul menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.
Teman-teman tentunya memperjuangkan hak ini atas nama rakyat dan juga rakyat. Dan, kita sebagai seorang mahasiswa tentunya harus memiliki visi yang satu dengan rakyat Indonesia,”
tuturnya.
























