Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Motor Listrik MBG Akan Dihibahkan ke Guru Honorer, Bantuan atau Pengalihan Isu?

Di saat publik masih mempertanyakan mengenai urgensi pengadaan motor listrik milik Badan Gizi Nasional (BGN)

Ilustrasi Motor Listrik
Chief Marketing Officer Alva Putu Swaditya Yudha (kiri) bersama CEO dan CO Founder Dash Aditya Brahmana (tengah) dan Presiden Director KALISTA Albert Aulia Ilyas (kanan) berbincang usai penandatanganan kerja sama penyediaan infrastruktur logistik berbasis sepeda motor listrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). (ANTARA FOTO/Darryl Ramadan)

Di saat publik masih mempertanyakan mengenai urgensi pengadaan motor listrik milik Badan Gizi Nasional (BGN) muncul wacana untuk menghibahkan kendaraan listrik tersebut kepada guru honorer. 

Merespons hal tersebut Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai langkah itu berpotensi membelokkan perhatian publik dari kontroversi pengadaan menjadi narasi bantuan.

Achmad mengatakan guru honorer memang kelompok yang layak mendapat perhatian negara. Namun, bantuan tersebut tidak boleh mengaburkan persoalan yang lebih besar.

Iklan

Guru honorer berisiko dijadikan etalase moral untuk menyelamatkan persepsi publik atas belanja negara yang sejak awal dipertanyakan,”

kata Achmad dalam keterangan resmi yang diterima Owrite, Jumat, 26 Juni 2026.

Selain itu, Achmad menganggap hibah motor listrik untuk guru honorer dikhawatirkan akan menggeser fokus masyarakat, yang semula menuntut transparansi terkait pengadaan menjadi wacana bantuan.

Menjaga Fokus Publik

Ia menilai publik tidak boleh dihadapkan pada pilihan yang keliru karena dukungan kepada guru honorer dan tuntutan transparansi anggaran seharusnya bisa berjalan beriringan.

Yang diuntungkan secara politik adalah pihak yang berhasil mengubah narasi. Dari semula isu dugaan salah kelola pengadaan, narasinya dapat digeser menjadi negara membantu guru honorer,”

ujarnya.

Achmad menegaskan bantuan kepada guru honorer tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan pertanyaan publik mengenai proses pengadaan motor listrik.

Selain itu, masyarakat dinilai berhak mengetahui urgensi, proses, spesifikasi, hingga manfaat dari pengadaan tersebut dan penggunaan anggaran negara.

Achmad pun meminta pemerintah menyelesaikan audit kebijakan, audit aset, dan audit hukum terlebih dahulu sebelum memutuskan pemanfaatan motor listrik BGN.

Guru honorer, menurut Achmad, juga tidak boleh dijadikan alat untuk memperbaiki citra kebijakan. Karena, mereka berhak memperoleh perhatian negara tanpa harus disangkut pautkan dengan kasus yang sedang berkembang sekarang.

Ia menambahkan, upaya meningkatkan kesejahteraan guru honorer seharusnya dilakukan melalui kebijakan yang menyentuh akar masalah. Mulai dari kepastian status kerja hingga penghasilan yang layak sebagai tenaga pendidik, bukan hanya melalui hibah motor listrik BGN.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Contributor

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.