Anggota DPR RI Saadiah Uluputty mengapresiasi perhatian Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Dirjen Sumber Daya Air (SDA) yang selama ini dinilainya sigap melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi risiko luapan Sungai Wae Ela di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku ke permukiman warga saat musim hujan.
Menurutnya, kehadiran pemerintah di kawasan tersebut telah memberikan rasa aman bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman banjir pascabencana.
Saya mengapresiasi Kementerian PU, khususnya Dirigen SDA, yang selama ini terus memberikan perhatian terhadap kawasan Wae Ela dan sigap mengantisipasi potensi luapan air ke rumah warga ketika musim penghujan. Perhatian seperti ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,”
kata Saadiah melalui keterangan pers yang diterima Owrite, Rabu, 8 Juli 2026.
Meski demikian, Saadiah menilai penanganan jangka panjang tetap harus diwujudkan melalui penyelesaian pembangunan Bendungan Wae Ela yang hingga kini belum terealisasi setelah terhenti sejak bencana longsor lebih dari satu dekade lalu.
Penunjukan Mayjen TNI (Purn) Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw sebagai Dirjen SDA oleh Menteri PU Dody Hanggodo, menjadi momentum baru untuk mempercepat penyelesaian proyek strategis tersebut.
Saya mendorong Bapak Arnold Ritiauw sebagai Dirjen Sumber Daya Air untuk menyelesaikan pembangunan Bendungan Wae Ela yang sudah mandek selama 13 tahun pasca bencana. Kelanjutan pembangunan ini menjadi harapan masyarakat Maluku,”
ucapnya.
Dikatakan legislator Fraksi PKS itu, Bendungan Wae Ela memiliki fungsi yang sangat strategis, bukan hanya sebagai pengendali banjir dan bencana, tetapi juga sebagai sumber penyediaan air baku bagi masyarakat Kota Ambon dan wilayah sekitarnya.
Ia menjelaskan, potensi air yang berasal langsung dari kawasan pegunungan dinilai mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dalam jangka panjang.
Di sisi lain, kawasan bendungan juga berpeluang dikembangkan menjadi destinasi wisata yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dulu Bendungan Wae Ela pernah diwacanakan menjadi pusat penyediaan air bersih bagi masyarakat Kota Ambon. Kini kawasan itu juga menjadi tujuan wisata masyarakat Maluku dan sudah saatnya dikembangkan kembali oleh pemerintah,”
jelasnya.
Selain percepatan pembangunan bendungan, Saadiah juga meminta pemerintah memprioritaskan normalisasi Sungai Wae Ela yang hingga kini masih tertutup material longsoran.
Pengerukan sedimen dan material batu yang menutup aliran Sungai Wae Ela juga perlu menjadi prioritas agar fungsi sungai dapat kembali optimal,”
ungkapnya.
Dijelaskannya, hasil kajian para ahli menunjukkan struktur tanah di kawasan Wae Ela membutuhkan waktu yang panjang untuk kembali stabil setelah bencana longsor besar yang menutup aliran sungai dan mata air.
Kini, setelah sekitar 13 tahun berlalu, ia menilai kondisi geologis kawasan tersebut sudah semakin stabil sehingga menjadi momentum yang tepat untuk melanjutkan pembangunan bendungan.
Pasca bencana sudah memasuki 13 tahun. Artinya struktur tanah mulai kembali menguat dan ini menjadi waktu yang tepat bagi pemerintah untuk melanjutkan pembangunan Bendungan Wae Ela,”
ujarnya.
























