Bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya menyisakan warga yang membutuhkan pertolongan. Tenaga kesehatan (nakes) yang seharusnya menjadi garda terdepan penanganan medis juga ikut terdampak. Bahkan, sebagian dari nakes kehilangan atau alami kerusakan rumah, tapi disaat yang sama tetap harus melayani pasien.
Kondisi tersebut membuat beban nakes di wilayah bencana menjadi berlipat. Mereka harus menangani warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, sementara persoalan serupa juga mereka hadapi di lingkungan keluarga masing-masing.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Kementerian Kesehatan dinilai perlu memberikan dukungan tambahan agar pelayanan kesehatan tetap berjalan tanpa mengorbankan kondisi nakes yang bertugas.
Tenaga kesehatan kita yang di sana satu sisi harus melayani pasien, sisi lain mereka adalah korban. Karena banyak dari mereka juga yang keluarganya dan mereka sendiri juga rumahnya terkena,”
ujar Nihayatul di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Beban Nakes Berlipat
Menurut Nihayatul, pemerintah tidak bisa terus mengandalkan nakes yang berada di lokasi bencana untuk menanggung seluruh beban pelayanan. Tambahan tenaga kesehatan dari daerah lain diperlukan agar beban kerja dapat dibagi.
Bantuan tenaga kesehatan sebelumnya telah dikirim dari sejumlah daerah. Nihayatul menyebut dokter spesialis dari Yogyakarta dan Makassar telah diperbantukan untuk menangani pasien, termasuk kebutuhan operasi ortopedi.
Namun, tambahan dokter saja dinilai belum cukup. Tenaga perawat dan personel kesehatan lainnya juga dibutuhkan untuk memastikan pelayanan tetap berjalan sekaligus memberikan kesempatan kepada nakes yang berada di lokasi untuk beristirahat.
Perawat dan sebagainya juga perlu dibawa, bisa dari politeknik kesehatan, dari mungkin Poltekkes Sorong, Surabaya. Kita punya banyak Poltekkes yang nanti mereka bisa diperbantukan di daerah bencana karena mereka juga butuh istirahat,”
jelas legislator Fraksi PKB tersebut.


DPR Soroti Risiko Burnout Nakes
Nihayatul mengingatkan, beban kerja yang terus menumpuk berisiko membuat nakes mengalami kelelahan fisik maupun mental atau burnout. Padahal, mereka tetap dituntut memberikan pelayanan dalam situasi yang serba terbatas.
Karena itu, Komisi IX juga meminta pemerintah memberikan insentif kepada seluruh nakes yang bertugas di wilayah bencana. Menurut Nihayatul, beban dan risiko pekerjaan mereka sudah jauh berbeda dibandingkan pelayanan kesehatan dalam kondisi normal.
Kita sudah minta dan nanti akan kita pertajam juga dengan Kementerian Kesehatan agar seluruh tenaga kesehatan yang di tempat bencana ini harus dikasih insentif karena mereka pekerjaannya lebih dari yang biasa,”
tegas Nihayatul.
DPR Soroti Risiko Tambahan
Ia mencontohkan tenaga radiologi yang harus menjalankan tugas di lokasi pengungsian atau tenda. Kondisi kerja tersebut dinilai menunjukkan adanya risiko tambahan yang harus dihadapi nakes selama berada di wilayah bencana.
Bayangkan namanya radiologi berada di tenda, itu kan radiasinya luar biasa. Itu jadi mereka pekerjaannya lebih dari biasanya dan itu harus dikasih insentif,”
tuturnya.
Nihayatul memastikan persoalan tambahan tenaga kesehatan, beban kerja, hingga pemberian insentif akan menjadi bahan evaluasi Komisi IX bersama Kementerian Kesehatan.




























