Aktivis Rindra Danantara, menyoroti pola komunikasi pemerintah dengan publik di era Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, Istana semestinya mampu menjadi sumber harapan, memberikan rasa nyaman, sekaligus membangun keyakinan masyarakat di tengah berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah.
Saya rasa memang kembali lagi ke cara komunikasi Istana. Ini kan sebenarnya di mana seharusnya mungkin saya setuju pada dasarnya presiden dan pemerintah itu sebenarnya adalah merchant of hope,”
ujarnya kepada Owrite, Jumat, 11 September 2026.
Dikatakan Rindra, pemerintah seharusnya hadir sebagai pihak yang menawarkan harapan kepada masyarakat. Namun, ia mempertanyakan apa yang sebenarnya hendak ditawarkan pemerintah ketika harapan tersebut justru tidak terlihat.
Jadi dia orang yang memberikan harapan seharusnya. Tapi apa yang mau diberikan di Indonesia sekarang, apa yang mau dijual sementara hope-nya tidak ada,”
ucapnya.
Lebih jauh dia menilai, ketika pemerintah tidak memiliki sesuatu yang kuat untuk ditawarkan sebagai harapan, komunikasi publik berpotensi bergeser ke isu-isu lain yang justru dapat memancing respons emosional masyarakat.
Jadi mereka mau jualan apa juga. Akhirnya mereka menjual lah beberapa teori konspirasi,”
jelasnya.
Lanjut Rindra, persoalan tersebut kemudian tidak berhenti pada munculnya teori konspirasi. Emosi publik juga dapat menjadi bagian dari pola komunikasi ketika pemerintah tidak mampu menghadirkan harapan yang kuat.
Terus abis itu menjual emosi. Karena harapannya tidak ada,”
ungkapnya.
Berikan Rasa Nyaman
Ia kemudian menyoroti pentingnya Presiden dan Istana memberikan rasa nyaman kepada masyarakat. Komunikasi pemerintah tidak semata-mata soal menyampaikan pesan atau menjelaskan kebijakan, tetapi juga bagaimana pemimpin mampu membuat masyarakat merasa lebih tenang.
Terlepas harapan anda, kan sebelumnya Istana dan Presiden harus jadi converter. Memberikan rasa nyaman,”
tuturnya.
Ditegaskannya, pemerintah memang tetap harus bekerja menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Namun, dalam komunikasi publik, kemampuan menghadirkan rasa tenang juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
Minimal rasanya aja dulu. Urusan solusinya kan yaudahlah,”
tegasnya.
Karena itu, Rindra menilai pemerintah perlu lebih serius memikirkan pesan yang disampaikan kepada publik. Harapan yang dibutuhkan masyarakat, kata dia, harus menjadi bagian penting dalam cara Presiden dan Istana membangun komunikasi.
Dengan demikian, komunikasi pemerintah tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian informasi. Pemerintah juga dituntut mampu menghadirkan harapan dan rasa nyaman agar publik tidak justru semakin terbawa emosi oleh isu-isu yang berkembang.
























