Alarm bahaya pendidikan tinggi Indonesia semakin nyaring terdengar. Di tengah mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045, akses kuliah justru dinilai semakin timpang.
Ribuan mahasiswa gagal menyelesaikan pendidikan, kampus swasta kekurangan mahasiswa, sementara kesempatan menempuh pendidikan tinggi masih belum dinikmati mayoritas anak muda Indonesia.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati menilai, berbagai persoalan yang muncul di sektor pendidikan tinggi bukanlah kasus yang berdiri sendiri.
Rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK), tingginya angka putus kuliah, hingga melemahnya perguruan tinggi swasta merupakan rangkaian masalah yang saling berkaitan.
Empat persoalan ini tidak bisa dilihat secara terpisah. Ini adalah alarm bahwa akses pendidikan tinggi kita masih menghadapi tantangan besar. Jangan sampai kuliah hanya menjadi kesempatan bagi kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik,”
kata Kurniasih dalam keterangan pers, Senin, 1 Juni 2026.
Data pendidikan tinggi menunjukkan, APK Indonesia masih berada di bawah 40 persen. Artinya, sebagian besar penduduk usia kuliah, belum mampu mengakses bangku perguruan tinggi. Situasi ini diperparah dengan tingginya angka mahasiswa yang terpaksa menghentikan studi di tengah jalan.
Berdasarkan Statistik Pendidikan Tinggi 2025, sekitar 289 ribu mahasiswa tercatat putus kuliah. Dari jumlah tersebut, lebih dari 73 persen berasal dari perguruan tinggi swasta. Fakta ini dinilai menjadi gambaran nyata, bahwa faktor ekonomi masih menjadi tembok besar bagi banyak mahasiswa.
Di sisi lain, Politisi PKS itu menyoroti semakin kuatnya dominasi perguruan tinggi negeri dalam penerimaan mahasiswa baru.
Kondisi tersebut membuat banyak perguruan tinggi swasta mengalami penurunan mahasiswa secara signifikan, bahkan sebagian kampus menghadapi ancaman keberlangsungan operasional.
Padahal PTS selama ini memiliki kontribusi besar dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Jika kampus-kampus swasta terus mengalami tekanan karena kekurangan mahasiswa, maka kapasitas nasional dalam menyediakan layanan pendidikan tinggi juga akan ikut melemah,”
paparnya.
Perlebar Kesenjangan Sosial
Kurniasih mengingatkan, bahwa kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan sosial. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi tangga mobilitas ekonomi, justru semakin sulit dijangkau masyarakat kelas menengah dan bawah.
Karena itu, ia mendesak pemerintah memperluas program beasiswa, bantuan biaya kuliah, hingga dukungan penyelesaian tugas akhir agar mahasiswa tidak terpaksa berhenti karena alasan ekonomi.
Perlu memperkuat pendidikan vokasi dan program link and match dengan dunia kerja agar pendidikan tinggi semakin relevan dengan kebutuhan industri dan mampu menarik lebih banyak calon mahasiswa,”
jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan akademik dan psikososial bagi mahasiswa yang rentan putus kuliah, terutama mereka yang berada di tahun-tahun akhir pendidikan.
Menurut Kurniasih, cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045 akan sulit tercapai jika akses pendidikan tinggi terus menyempit dan kampus-kampus swasta dibiarkan melemah.
Target Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih banyak lulusan pendidikan tinggi yang berkualitas. Karena itu, akses masuk kuliah harus diperluas, mahasiswa harus dibantu agar bisa bertahan hingga lulus, dan seluruh ekosistem pendidikan tinggi, termasuk PTS, harus diperkuat secara bersama-sama,”
tutup Kurniasih.

