Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Islah Bahrawi mengaku dirinya jadi sasaran pengawasan serta penguntitan oleh orang tidak dikenal (OTK). Menurut Islah, penguntitan itu juga terjadi terhadap keluarganya.
Pengakuan Islah disampaikan di tengah meningkatnya kritik sejumlah figur terhadap berbagai kebijakan kontroversi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Islah, dirinya bukan satu-satunya yang mengalami tekanan. Ia menyebut sejumlah aktivis, akademisi, dan tokoh publik lainnya juga menghadapi bentuk intimidasi yang berbeda-beda setelah menyampaikan kritik di ruang publik.
Saya dan keluarga disurveilance dan dikuntit. Tiyo juga sama,”
tulis Islah Bahrawi dikutip dari akun X pribadinya, Rabu, 17 Juni 2026.
Islah kemudian menyebut beberapa figur lain yang diduga mengalami tekanan serupa. Hal itu mulai dari penyebaran data pribadi hingga dugaan teror digital.
Dia menuturkan sejumlah nama seperti dua pakar hukum tata negara Feri Amsari dan Prof Zainal Arifin Mochtar alias Uceng.
Uda Feri dan keluarganya didoksing. Prof Uceng diteror digital,”
lanjutnya.
Islah juga menyebut ada akademisi seperti Prof Saiful Mujani yang mengalami pengawasan langsung oleh orang tak dikenal di lingkungan rumah maupun tempat kerjanya.
Prof Saiful di rumah dan kantornya ditongkrongin OTK,”
ujarnya.
Lebih lanjut, Islah menambahkan dari berbagai peristiwa itu menimbulkan pertanyaan serius mengenai ruang demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat di Tanah Air.
Islah bilang selain mengalami dugaan pengawasan dan intimidasi, dirinya bersama sejumlah pihak lain juga telah dilaporkan ke aparat penegak hukum.
Kami juga telah dilaporkan ke polisi. Apa cara begitu yg dibilang lebih mengutamakan diskusi?”
imbuh Islah.


