Manuver Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi yang dinilai ingin mengunci duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tengah disorot. Jika Prabowo-Gibran kembali diduetkan di 2029 maka akan memunculkan konsekuensi politik bagi partai pendukung pemerintah.
Narasi Prabowo-Gibran dua periode itu dinilai bisa mempersempit ruang gerak sejumlah tokoh yang selama ini disebut-sebut punya peluang besar jadi calon wakil presiden di 2029.
Figur Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias (AHY) jadi salah satu yang paling sering dikaitkan dengan skenario tersebut. AHY kerap disebut sebagai salah satu kandidat potensial pendamping Prabowo di 2029.
Tak hanya AHY, posisi Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin juga ikut terdampak. Selain itu, Partai Golkar yang jadi pemenang kedua Pemilu pun bisa menjadi korban atas isu Prabowo-Gibran dua periode ini. Kader Partai Golkar sudah dua pilpres terakhir tak dicalonkan sebagai capres dan cawapres.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai wacana dua periode tidak bisa dibaca hanya sebagai bentuk dukungan kepada pemerintahan saat ini.
Dalam politik, dukungan terhadap pemerintahan dan agenda suksesi sering berjalan beriringan,”
kata Arifki Chaniago kepada Owrite, Senin, 22 Juni 2026.
Menurutnya, setiap narasi yang muncul terkait keberlanjutan kekuasaan selalu memiliki dampak terhadap distribusi peluang politik di dalam koalisi.
Karena itu, wacana dua periode tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dukungan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran. Tetapi, juga memiliki implikasi terhadap distribusi peluang politik di dalam koalisi,”
ujarnya.
Dijelaskan Arifki, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan rakyat, para elite politik tak mungkin mengabaikan sinyal-sinyal yang muncul sejak dini.
Pun, saat peluang pasangan petahana untuk kembali maju mulai dibicarakan secara terbuka, partai-partai yang punya figur potensial tentu akan mulai menyesuaikan strategi politik mereka.
Pada akhirnya yang menentukan bukan elite politik, melainkan publik,”
jelasnya.
Namun demikian, proses kalkulasi politik di internal partai pasti sudah berjalan jauh sebelum masyarakat menentukan pilihan.
Ketika wacana dua periode mulai digaungkan sejak awal pemerintahan, partai-partai yang memiliki figur potensial tentu akan mulai menghitung ulang strategi dan posisi tawarnya,”
kata Arifki.
Lebih lanjut, Arifiki menilai yang tengah dipertaruhkan bukan hanya posisi politik saat ini. Tapi, juga kesempatan untuk mengakses pusat kekuasaan pada pemilu berikutnya.
Karena yang diperebutkan bukan hanya kekuasaan hari ini, tetapi juga tiket kekuasaan pada 2029,”
ujarnya.
Isu Prabowo-Gibran dua periode mencuat setelah pesan Jokowi terhadap elite PSI. Pesan Jokowi ingin PSI mendukung Prabowo-Gibran hingga dua periode.
Pesan Jokowi itu disampaikan usai bertemu dengan kader PSI di Solo, Kamis, 18 Juni 2028.
























