Di tengah gelombang demonstrasi yang terus bermunculan di berbagai daerah, pemerintah diduga menggunakan langkah cepat meredam aksi demonstrasi mahasiswa dengan menyogok gunakan uang.
Praktik semacam itu dinilai sebagai upaya untuk meredam kritik yang berkembang akibat berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung terselesaikan.
Koordinator Lapangan Aksi Mahasiswa Jakarta Barat Arief Rizquna mengatakan, kemunculan aksi mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir bukan terjadi tanpa alasan. Hal itu merupakan refleksi dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Aksi dan gerakan mahasiswa yang terus muncul di berbagai ruang publik, ini merupakan cerminan dari buruknya tata kelola negara, serta akumulasi persoalan yang tidak kunjung mendapatkan penyelesaian yang berpihak kepada rakyat,”
kata Arief Rizquna kepada Owrite, Rabu, 24 Juni 2026.
Ia menegaskan, maraknya aksi protes mahasiswa seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah, bahwa kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara sedang mengalami penurunan.
Fenomena tersebut seharusnya dibaca sebagai sinyal adanya krisis kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah dalam menjalankan fungsi pemerintahan secara efektif, bukan meredamnya denna uang,”
ujarnya.
Namun menurut Arief yang terjadi justru sebaliknya, alih-alih menjawab tuntutan yang disampaikan mahasiswa dan masyarakat, pemerintah dinilai lebih fokus mengelola dampak politik dari kritik yang terus menguat.
Kritik yang disampaikan sering kali direspons dengan berbagai upaya pengerdilan gerakan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pemerintah lebih memilih mengendalikan suara kritis daripada menyelesaikan akar persoalan,”
tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah polemik dugaan pemberian uang kepada mahasiswa yang disebut-sebut mencapai jutaan rupiah per orang.
Ia menilai tindakan melemahkan gerakan mahasiswa bukanlah cerminan kekuatan negara, melainkan justru menunjukkan ketidakmampuan pemerintah menghadapi kritik secara terbuka.
Pengerdilan terhadap gerakan mahasiswa bukanlah tanda kekuatan negara, melainkan bukti ketidakmampuan pemerintah dalam merespons kritik dan menghadirkan solusi yang substantif atas berbagai masalah yang dihadapi masyarakat,”
jelasnya.
Karena itu, Arief mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas gerakan mahasiswa agar tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang dapat mengubah arah perjuangan.
Sekecil apa pun bentuk perjuangan, ia tetaplah perjuangan. Karena itu, jangan berhenti berjuang dan jangan mudah terpecah. Selama keberpihakan tetap terjaga dan nurani tetap menyala, setiap ikhtiar memiliki makna. Maka berjuanglah semampumu, bertahanlah sekuatmu,”
ungkapnya.




















