Presiden RI Joko Widodo sudah mulai safari politik untuk mendongkrak elektoral Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Safari politik pertama Jokowi bersama PSI dimulai dari Lampung pada akhir pekan lalu.
Pakar politik Adi Prayitno menganalisa, manuver Jokowi bisa percuma karena perolehan elektoral tergantung kerja terukur politik PSI. Dia mengingatkan politik di pilpres dan pileg berbeda.
Di Pilpres pemilih hanya pilih dua atau tiga calon. Wajah capres cawapres dipampang di kertas suara,”
kata Adi kepada Owrite, Senin, 29 Juni 2026.
Adi menuturkan, mesin politik yang jadi ujung tombak di pileg adalah calon legislator atau caleg yang diusung. Jika salah mengusung caleg, elektoral yang diharapkan bisa gagal.
Salah majukan caleg bisa ambyar suaranya. Di pileg kekuatan politiknya terpusat pada caleg yang bertanding,”
jelas Adi.
Menurutnya, PSI tak bisa menggantungkan nasib kepada Jokowi dalam blusukan ke daerah. Ia mengingatkan, PSI harus punya caleg andalan.
Karena itu, PSI tak bisa menggantungkan nasib politiknya ke blusukan Jokowi. Tapi, harus dibarengi dengan caleg andalan untuk menangkan kursi di setiap dapil,”
ujar Adi.
Dia mencontohkan, perbedaan di pilpres dan pileg. Salah satunya Pemilu 2024 yang menang pilpres adalah Prabowo Subianto-Gerindra. Namun, yang menang Pileg 2024 adalah PDIP.
Di 2004 SBY menang presiden, tapi Golkar menang pileg,”
jelas bos dari Parameter Politik Indonesia itu.
Lebih jauh Adi juga menyoroti pentingnya peran caleg dan mesin politik PSI menuju 2029.
Di kertas suara nggak ada nama dan wajah Jokowi. Adanya cuma logo partai dan nama caleg PSI,”
sebut Adi.
Untuk diketahui, Jokowi bersama elite PSI mulai safari politik di Lampung pada Sabtu, 27 Juni 2026. Agenda Jokowi bertemu dengan sejumlah elemen masyarakat termasuk kiai dan santri di Lampung.
Di safari politik Lampung, ada sebagian warga yang menolak kedatangan Jokowi. Mereka mempersoalkan kedatangan Jokowi ke Lampung di tengah kisruh dugaan ijazah hingga persoalan pelik lainnya.

























