Momen Presiden Prabowo Subianto duduk diapit Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Senin, 17 Agustus 2026, masih jadi sorotan.
Muncul tafsir bahwa ketiga tokoh itu ingin memperlihatkan hubungan baik-baik saja di tengah isu keretakan. Salah satunya terkait insiden Gibran yang duduk tak sejajar dengan Prabowo saat rapat kabinet belum lama ini yang memunculkan isu keretakan politik.
Yang pertama konteks dari peristiwa itu yang harus kita gali terlebih dahulu ya. Terkait misalkan informasi yang tampil di media posisi Gibran sebagai Wakil Presiden dalam sidang kabinet,”
kata Guru Besar Universitas Brawijaya Prof Anang Sujoko kepada Owrite, Kamis, 20 Agustus 2026.
Momen itu menurutnya perlu dilihat dalam rangkaian peristiwa politik sebelumnya. Anang juga menyinggung isu lainnya yang berhembus seperti polemik eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, rumor pergantian Kapolri Listyo Sigit Prabowo, hingga potensi bakal ada kerusuhan pada Agustus 2026.
Anang menilai, rangkaian isu tersebut tidak bisa dilepaskan dari momen ketika Jokowi terlihat duduk berjajar dengan Prabowo dan Gibran dalam upacara HUT RI.
Ini adalah sebagai sebuah konteks atau rangkaian dari peristiwa-peristiwa yang tidak bisa dilepaskan begitu saja pada ke peristiwa setelah itu,”
ujar Anang.
Ia menilai posisi ketiga tokoh tersebut saat upacara HUT RI bisa dibaca sebagai upaya membangun kembali komunikasi publik. Selain itu, juga sebagai upaya untuk meredam berbagai spekulasi mengenai hubungan politik antara kubu Prabowo dan lingkaran Jokowi.
Ada upaya secara komunikasi publik ingin menunjukkan ada keeratan kembali. Dan, ini memperbaiki dalam tanda kutip sebetulnya mengeliminasi isu-isu yang sebelumnya atau yang membelakangi selama ini yang terjadi seperti yang tadi saya sebutkan di awal,”
jelas Anang.
Masih Butuh Jokowi
Anang menambahkan, momen itu juga menunjukkan bahwa Prabowo masih membutuhkan pengaruh Jokowi dalam menjaga stabilitas politik pemerintahannya.
Dari poin ini juga, ini menggambarkan bahwa Prabowo masih sangat tergantung dari Presiden sebelumnya, dalam hal ini adalah Jokowi,”
lanjut Anang.
Menurutnya, meski Gibran dinilai belum punya peran yang signifikan dalam pemerintahan, keberadaan Jokowi dan jejaring politiknya masih dianggap penting bagi Prabowo.
Tetapi pada kenyataannya Prabowo masih membutuhkan yang namanya peran Jokowi dan kroni-kroninya,”
ujarnya.
Anang menilai, kebutuhan tersebut berkaitan dengan dinamika politik nasional yang belakangan mulai bergerak dan berpotensi menimbulkan gejolak.
Ini masih sangat kelihatan dalam rangka untuk mengantisipasi gerakan-gerakan politik yang mulai bergejolak di Indonesia saat ini,”
sebutnya.
Tokoh Berpengaruh
Menurutnya, pengaruh Jokowi tidak selalu terlihat secara langsung. Ia menyebut masih terdapat sejumlah tokoh yang dianggap memiliki kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya namun tetap berada dalam pemerintahan Prabowo.
Anang kemudian mencontohkan sejumlah nama yang menurutnya menunjukkan masih adanya jejaring Jokowi dalam pemerintahan Prabowo.
Contoh misalkan seperti Kapolri, Mendagri, kemudian juga ada Pak Luhut,”
tutur Anang.
Ia menilai, keberadaan tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa Prabowo belum sepenuhnya terlepas dari jaringan politik Jokowi. Menurutnya, kondisi itu juga berkaitan dengan kebutuhan menjaga stabilitas politik nasional.
Ini adalah bentuk-bentuk yang sebetulnya Prabowo belum bisa lepas dari tokoh-tokoh itulah. Katakan itu dalam rangka untuk memastikan stabilitas politik nasional itu yang ada,”
jelas Anang.
























