Aksi demonstrasi 27 Agustus kemarin tidak semata-mata sebagai gerakan spontan masyarakat, tetapi berpotensi dimanfaatkan berbagai kepentingan politik untuk mendelegitimasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Aktivis senior, Syahganda Nainggolan, menilai pola penggalangan massa dari isu lokal, termasuk aksi masyarakat Pati, dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih besar apabila tidak diantisipasi pemerintah secara sistematis.
Pasti ada dong. Karena itu kan kalau dalam teori lama yang disebut agitasi propaganda zaman-zaman komunis dulu. Ledakan dari tempat yang kecil, besarkan dengan propagandanya,”
kata Syahganda yang dikutip dari laman Youtube ForumKeadilanTV atas izin, Selasa, 1 September 2026.
Menurut Syahganda, aksi masyarakat Pati dapat dibaca sebagai titik awal pembentukan opini dan mobilisasi massa.
Ia menilai, sejumlah isu yang berkembang kemudian diperkuat melalui narasi di media sosial hingga muncul wacana pengerahan massa dalam jumlah besar.
Pati ini kan agitasinya, propagandanya itu mulai pagar mall ditinggikan, narasi kebakaran hutan dikaitkan dengan tahun ini, tahun apa? Tahun Cina, tahun api,”
ucapnya.
Kemudian, sambung Syahhganda, di media sosial narasinya itu bahwa akan ada gerakan 1 juta. Menurutnya, jika hal ini tidak ada pencegahan yang sistematis dari pemerintahan Prabowo bisa jadi besar dan mengulangi seperti tahun lalu.
Perbedaan Pola Aksi
Dijelaskan Syahganda, pola tersebut berbeda dengan dinamika aksi pada tahun sebelumnya. Jika sebelumnya penggalangan gerakan disebut bermula dari media sosial, kali ini Syahganda menilai isu dari Pati berpotensi menjadi titik awal mobilisasi.
Karena tahun lalu juga modelnya hampir mirip, cuma mereka itu memainkan awalnya dari media sosial. Kalau ini memainkannya dari Pati. Terlepas dari masyarakat Pati itu merasa ditunggangin atau enggak, atau murni,”
terangnya.
Syahganda juga menyoroti munculnya berbagai pernyataan tokoh politik yang menurutnya ikut membentuk narasi di tengah aksi.
Ia menyebut pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Eggi Sudjana sebagai bagian dari berbagai narasi yang berkembang di ruang publik.
Kemudian narasi-narasi yang dibangun, misalkan Pramono Anung membangun narasi, silahkan nggak ada masalah, asal aksi damai. Egy Sujana membangun narasi bahwa silahkan nginap di kantor saya, saya kasian, dan lain-lain. Itu kan narasi-narasi politik ada semua,”
jelasnya.
Pernyataan Budi Arie Disorot
Lanjut Syahganda, pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie juga menjadi bagian dari dinamika politik yang patut dicermati.
Ditambah lagi narasi politik yang dilakukan oleh Budi Ari. Jadi memang banyak pihak. Saya nggak mengatakan ini satu pihak,”
bebernya.
Dijelaskannya, berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda dapat saja memanfaatkan momentum aksi untuk membangun situasi politik yang menyerupai gejolak pada Agustus tahun sebelumnya. Skenario tersebut bahkan berpotensi diarahkan hingga memunculkan kondisi darurat.
Bisa kelompok mana saja yang ingin melakukan suatu nuansa politik yang mirip dengan Agustus tahun lalu, agar ada kemudian darurat sipil atau darurat militer pada akhirnya,”
jelasnya.
Jadi pertanyaan apakah ini ada? Ya, pasti ada. Bahwa ini ada suatu skenario besar untuk mendelegitimasi dan mendegradasi lidersip Prabowo,”
tutupnya.





















