Bank Indonesia (BI) menutup ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate ke depan. Hal ini mempertimbangkan efek perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan langkah moneter yang di tempuh bank sentral ini untuk memperkuat intervensi hingga cadangan devisa.
Memang dampak perang Timur Tengah ini kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga, kami hilangkan dari pernyataan ini. Karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI Rate selama ini,”
ujar Perry dalam konferensi pers dikutip Rabu, 18 Maret 2026.
Untuk memperkuat intervensi dan juga kecukupan cadangan devisa dan menekannya ke depan, sesuai dinamika yang ada ke depan tentang optimalitas suku bunga intervensi, dan kecukupan cadangan devisa,”
sambungnya.
Adapun efek perang di Timur Tengah ini telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. BI memperkirakan ekonomi hanya akan tumbuh 3,1 persen, dari sebelumnya di 3,2 persen.
Perry menilai, melambungnya harga minyak dunia telah memberikan dampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara. Sehingga, menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diperkirakan akan lebih lambat menjadi 3,1 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2 persen,”
jelasnya.
Di samping itu, BI pada bulan ini juga menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,74 persen. Keputusan ini diambil untuk memperkuat nilai tukar rupiah akibat dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.
Untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1 persen,”
jelasnya.

