Harga minyak dunia naik pada Jumat, setelah menurun selama tiga sesi berturut-turut. Kondisi ini seiring investor mempertimbangkan berbagai sinyal terkait negosiasi kesepakatan damai Iran.
Amerika Serikat (AS) sudah mengindikasikan kesepakatan damai dengan Iran akan segera tercapai. Namun, sikap pimpinan Iran yang dilaporkan ingin tetap menyimpan uranium yang telah diperkaya di dalam negeri memunculkan kekhawatiran konflik akan berlangsung lebih lama, sehingga pasokan minyak tetap terganggu dalam jangka waktu yang lebih lama.
Dilansir dari CNBC Jumat, 22 Mei 2026, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juli naik 1,9 persen menjadi US$104,52 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juni naik 1,5 persen menjadi US$97,81 per barel.
Berdasarkan laporan Reuters, pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengeluarkan arahan bahwa uranium berkadar hampir setingkat senjata yang dimiliki negara tersebut tidak boleh dikirim ke luar negeri.
Pernyataan ini disampaikan setelah, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington berada dalam tahap akhir negosiasi dengan Iran.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak terus berlanjut, sebab International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa seiring meningkatnya permintaan perjalanan selama musim panas, pasar minyak berisiko memasuki zona merah dalam waktu dekat karena stok global terus menipis.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, solusi terpenting untuk mengatasi guncangan energi akibat perang adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat. Sebab, negara-negara berkembang di Asia dan Afrika akan merasakan dampak terberat dari krisis ini.
Para eksekutif energi memperingatkan bahwa normalisasi penuh pasokan minyak Timur Tengah kemungkinan baru terjadi pada 2027 karena besarnya gangguan yang disebabkan konflik,”
tulis catatan terbaru MUFG.



