Kontroversi kembali menyeret nama Permadi Arya alias Abu Janda, setelah pernyataannya yang menyebut umat Islam di Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Barat (Sumbar) sebagai umat “bar-bar”.
Pernyataan itu langsung menuai sorotan, termasuk dari mantan politisi PSI, Ade Armando yang juga dikenal sebagai kolega Abu Janda. Ade mengingatkan Abu Janda agar lebih berhati-hati dalam menggunakan narasi di ruang publik, karena dapat memicu konflik sosial dan memperbesar polarisasi di masyarakat.
Rasanya Permadi Arya alias Abu Janda harus lebih berhati-hati. Dia ini sekarang sedang jadi sasaran tembak banyak orang, karena dia menyebut umat Islam di Jawa Barat dan Sumatera Barat sebagai umat yang bar-bar,”
kata Ade Armando yang dikutip dari video pendek di X, Kamis 28 Mei 2026.
Politikus yang berasal dari Sumbar itu menilai, kritik terhadap intoleransi seharusnya tidak disampaikan dengan bahasa yang justru melukai kelompok masyarakat tertentu.
Kami di Gerakan PIS merasa Abu Janda sebaiknya menggunakan istilah dan gaya bernarasi yang tidak melukai masyarakat,”
sarannya.
Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) itu menegaskan, persoalan intoleransi memang harus menjadi perhatian serius pemerintah dan tokoh agama. Namun menurutnya, upaya mengkritik tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap kelompok tertentu.
Kritik terhadap intoleransi sebaiknya tetap tidak dilakukan dengan menghina, apalagi sampai menyebutnya dengan istilah bar bar,”
tegasnya.
Ia juga memperingatkan, bahwa ucapan seperti itu sangat berpotensi memperuncing polarisasi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Pernyataan seperti ini sangat mungkin memperbesar polarisasi sosial. Tapi di saat yang sama, ini juga jadi pengingat bahwa kasus kasus intoleransi yang ada, harus jadi perhatian serius pemerintah dan manjilis ulama Indonesia,”
jelasnya.
Ade meminta pemerintah, aparat penegak hukum, serta tokoh agama lebih aktif menjaga hak beribadah seluruh warga negara tanpa membedakan latar belakang agama.
Pemerintah aparat dan toko agama harus lebih aktif menjaga hak beribada seluruh warga negara tanpa pandang agama,”
pintanya.
Ade Armando juga mengingatkan agar negara tidak kalah cepat, dibanding provokasi yang menyebar melalui media sosial.
Jangan sampai negara kalah cepat dibanding dengan provokasi misalnya media sosial. Karena Indonesia tidak butuh narasi saling hina antar kelompok, yang dibutuhkan sekarang jusru keberanian, menjaga toleransi tanpa kehilangan rasa hormat terhadap sesama warga bangsa,”
tegasnya lagi.
Ade pun menutup pernyataannya dengan ajakan menjaga persatuan dan toleransi di tengah keberagaman Indonesia.
Yuk kita raut toleransi di Indonesia bukan malah merusaknya,”
ajaknya.
Sebagaimana diketahui, ucapan tersebut disampaikan Abu Janda saat menghadiri forum komunitas umat Kristiani Indonesia di Amerika Serikat, yang membahas isu toleransi dan kebebasan beragama.
Dalam forum itu, Abu Janda menyinggung persoalan intoleransi dan serangan terhadap rumah ibadah Kristen di Indonesia. Ia kemudian mengaitkannya dengan apa yang disebut sebagai fenomena “Kristen phobia”, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Abu Janda bahkan menyebut karakter umat Islam di dua daerah tersebut cenderung lebih keras dibanding wilayah lain di Indonesia.

