Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah wilayah di Indonesia bagian barat, khususnya di Aceh dan Riau, mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Abdul Muhari mengatakan karhutla terjadi di tiga gampong dari dua kecamatan di wilayah Kabupaten Aceh Barat.
Lokasi terdampak yaitu Gampong Berawang dan Gampong Kuta Padang Layung di Kecamatan Bubon, serta Gampong Lapang di Kecamatan Johan Pahlawan. Total luasan lahan terbakar yang terjadi pada Sabtu 30 Mei di kedua kecamatan tersebut mencapai 13 hektare,”
ujar Muhari dalam keterangannya.
Ia menambahkan upaya pemadaman terus dilakukan, namun petugas gabungan di lapangan terkendala angin kencang sehingga api mudah menyebar dan asap tebal yang memengaruhi jarak pandang.
Api di Kecamatan Johan Pahlawan sudah padam total,”
katanya.
Lebih lanjut Muhari menambahkan kebakaran hutan dan lahan selanjutnya dilaporkan dari Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Pada Senin 1 Juni pukul 13.15 WIB, terjadi karhutla di Kampung Simpang Balek, Kecamatan Wih Pesam.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun api menghanguskan satu hektare lahan tersebut.
Muhari mengatakan memasuki musim kemarau, karhutla juga terjadi di wilayah Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Desa Simpang 4 Rajawali, Kecamatan Ketol, pada Senin 1 Juni 2026. Lahan terbakar seluas satu hektare dan api telah padam.
Sementara itu, dari Provinsi Riau, salah satu provinsi prioritas karhutla, dilaporkan per Senin (1/6) total luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 1 Juni 2026 mencapai 15.031,58 hektare.
Data Sipongi mencatat penambahan luasan lahan terbakar terjadi antara lain lima hektare di Bukit Lumut, Desa Cipang Kiri Hulu, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu; 44,4 hektare di Dusun Sejati, Kepenghuluan Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir; dan satu hektare di RT 03/RW 01, Kelurahan Kandis Kota, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak.
Imbauan BNPB
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dapat dipicu oleh cuaca ekstrem selama masa peralihan musim, seperti angin kencang, hujan ekstrem, angin puting beliung, banjir, dan gelombang tinggi.
Selain itu, masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan dan senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan tepercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG,”
tutup Muhari.




