Iran minta Amerika Serikat (AS) bisa menjalankan komitmen usai tanda tangan memorandum kesepakatan damai. Teheran menegaskan keberhasilan implementasi kesepakatan damai juga bergantung pada sikap Israel di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan pemerintah Iran akan mengawasi secara ketat pelaksanaan seluruh poin yang telah disepakati dalam memorandum tersebut.
Menurut Baghaei, Teheran tak akan memberikan toleransi jika Washington gagal memenuhi kewajibannya sebagaimana tertuang dalam kesepakatan.
Tanpa kelonggaran,”
kata Baghaei, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia juga menegaskan Iran tak akan melanjutkan komitmennya apabila Washington dinilai menghindari tanggung jawab yang telah disepakati.
Selain menyoroti implementasi kesepakatan, Baghaei mengungkapkan bahwa isu program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS akan jadi fokus pembahasan dalam periode negosiasi selama 60 hari ke depan.
Namun, Iran memastikan program rudal balistiknya tak akan masuk dalam agenda perundingan.
Rudal Iran hanya untuk ditembakkan, bukan untuk negosiasi. Kemampuan pertahanan Iran tidak akan dibahas dalam proses apa pun dengan pihak mana pun,”
jelas Baghaei.
Pun, Baghaei juga menyinggung situasi di Lebanon yang selama ini jadi salah satu titik panas di Timur Tengah. Ia menegaskan Iran tak akan meninggalkan sekutunya di kawasan tersebut.
Menurut dia, tanggung jawab utama kini berada di tangan AS agar bisa memastikan Israel mematuhi seluruh komitmen yang berkaitan dengan Iran.
Mengenai Lebanon, Iran telah menunjukkan bahwa mereka tidak meninggalkan teman-temannya,”
ujarnya.
Baghaei menambahkan bahwa AS memiliki peran penting untuk memaksa Israel menghormati komitmen yang dibuat kepada Iran sebagai bagian dari proses stabilisasi kawasan.
Di sisi lain, Iran juga menegaskan tak akan mengirim cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri. Teheran hanya membuka opsi pengenceran material tersebut sebagai alternatif untuk menutup kemungkinan skenario lain yang tak diinginkan.
Sementara terkait Selat Hormuz, Iran menyampaikan sedang menyusun mekanisme baru pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut bersama Oman.
Menurut Baghaei, rezim pengelolaan baru nantinya akan disertai penerapan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Pernyataan Iran muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani memorandum kesepakatan damai yang menjadi fokus utama dalam rangkaian KTT G7 di Prancis.
Di forum KTT G7, Trump bahkan menyampaikan pandangan yang cukup berbeda terkait kemampuan militer Iran. Presiden kontroversial itu menilai tak adil jika Iran dilarang memiliki rudal balistik. Sementara, menurut dia, negara-negara lain di kawasan tetap memiliki persenjataan serupa.


