Harapan terciptanya stabilitas baru di Timur Tengah kembali menghadapi ujian berat. Israel kembali jadi pemicu setelah gelombang serangan negara Zionis itu menggempur Lebanon yang menewaskan sedikitnya 32 orang.
Eskalasi terbaru ini tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga mengancam proses perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, dijadwalkan ada pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada Minggu. Dari laporan Al Jazeera, pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) yang sudah diteken pekan ini.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa delegasi AS dan Iran akan hadir dalam perundingan tersebut. Pun, mediator dari Pakistan dan Qatar dijadwalkan turut hadir. Tapi, kondisi yang memburuk di Lebanon dinilai berpotensi mempersulit jalannya negosiasi.
Bagi Teheran, keberlangsungan gencatan senjata di Lebanon merupakan elemen penting dalam proses diplomatik yang sedang berlangsung. Iran bahkan memandang perkembangan di Lebanon bisa jadi faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pembicaraan dengan Washington.
Korban Terus Bertambah
Serangan Israel dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan dan timur. Badan pertahanan sipil Lebanon menyebut sedikitnya 16 orang tewas dan 12 lainnya terluka dalam serangan di Distrik Nabatieh.
Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan seorang tentara Lebanon tewas dalam serangan di Desa Kfar Reman.
Di Distrik Tyre, sebuah serangan di Desa Barish menewaskan empat anggota satu keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak mereka. Serangan lain di Sohmor, wilayah Bekaa Barat, menghantam rumah yang dihuni keluarga dan menyebabkan empat orang tewas serta satu orang terluka.
Pusat Operasi Darurat Kesehatan Lebanon juga melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dan 13 lainnya luka-luka akibat serangan di Qanarit, Distrik Sidon.
Sehari sebelumnya, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 83 orang tewas dan 141 lainnya terluka dalam serangan yang terjadi sesaat setelah pengumuman gencatan senjata yang diperbarui. Mayoritas korban berasal dari Lebanon selatan. Sementara sebagian lainnya berada di wilayah timur negara tersebut.
Lebih dari 100 Serangan Udara
Jurnalis Al Jazeera, Heidi Pett, yang melaporkan langsung dari Kota Tyre, mengatakan bahwa lebih dari 100 serangan udara Israel terjadi di Lebanon selatan sejak tengah malam.
Ini adalah hari yang menghancurkan di sini; ada warga sipil di antara mereka yang tewas dan terluka,”
kata Pett dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 21 Juni 2026.
Pett juga menyoroti kematian personel militer Lebanon yang memicu reaksi keras dari institusi militer negara tersebut.
Dan, itu telah memicu respons yang cukup kritis dari tentara Lebanon, yang biasanya menjauh dari politik,”
ujar Pett.
Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 4.057 orang dan melukai 12.121 lainnya.
Situasi di Lebanon kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah diplomasi regional.
Jurnalis Al Jazeera lainnya, Rob McBride, yang melaporkan dari Beirut, menilai rapuhnya gencatan senjata memperlihatkan betapa erat hubungan antara konflik di Lebanon dan negosiasi internasional yang sedang berlangsung.
Ini menunjukkan sifat gencatan senjata yang goyah ini, dan juga bagaimana seluruh proses negosiasi tampaknya bergantung pada Lebanon dan apa yang terjadi di sini dalam beberapa hari dan minggu mendatang,”
kata McBride.
Dalam MOU yang disepakati AS dan Iran, penghentian perang di Lebanon disebut secara eksplisit sebagai bagian integral dari upaya menciptakan perdamaian di berbagai front konflik kawasan.
Militer Lebanon pun menuduh serangan yang terus berlanjut bertujuan menghambat pemulihan stabilitas nasional.
Anggota parlemen Lebanon, Najat Aoun Saliba, mengungkapkan kelelahan masyarakat setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian dan kekerasan.
Ini juga merugikan kami [pemerintah] banyak uang dan banyak penderitaan,”
tutur Saliba.
Ia menambahkan bahwa baik Israel maupun Hizbullah telah menjadikan wilayah Lebanon sebagai arena perebutan pengaruh yang berkaitan dengan konflik lebih luas yang melibatkan Iran.
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah menyerang pasukan Israel yang bergerak menuju kawasan dekat Nabatieh pada malam sebelumnya.
Militer Israel kemudian menyampaikan bahwa Hizbullah telah menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan mereka yang beroperasi di Lebanon selatan. Israel menuding Hizbullah yang melanggar gencatan senjata.
Israel juga mengonfirmasi kematian satu tentaranya dalam operasi di Lebanon selatan. Korban tersebut menjadi tentara Israel kelima yang tewas sejak tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.





























