Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga semakin ketatnya persaingan di dunia kerja, muncul fenomena sosial yang mulai tumbuh di masyarakat yakni full time children.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika anak yang telah memasuki usia produktif kembali bergantung secara ekonomi kepada orangtuanya karena belum memiliki penghasilan yang stabil.
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) Erna Karim menilai ada potensi fenomena ini semakin banyak terjadi, seiring dengan perubahan besar dari era industri menuju era digital.
Menurutnya, perubahan ini tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga menggeser cara generasi muda memandang pendidikan, karier, hingga masa depan.
Apa Itu Full Time Children?
Erna menjelaskan, full time children merupakan kondisi ketika anak yang telah dewasa kembali tinggal bersama orang tua dan bergantung pada mereka secara ekonomi.
Dalam beberapa kasus, orang tua bahkan melibatkan anak dalam kegiatan ekonomi keluarga, seperti membantu menjalankan usaha atau mengurus pekerjaan rumah tangga, kemudian memberikan imbalan kepada mereka.
Fenomena full time children itu ketika anak kembali kepada orang tua. Kalau mereka tidak siap menghadapi perubahan, mereka tidak memiliki penghasilan. Orang tua kemudian mempekerjakan anaknya dalam kegiatan ekonomi keluarga dan memberi mereka penghasilan,”
kata Erna, kepada Owrie.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kemalasan anak muda, melainkan karena perubahan besar yang sedang terjadi dalam struktur dunia kerja.
Era Digital Mengubah Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja
Erna menjelaskan bahwa peradaban digital telah mengubah pola kerja yang sebelumnya didominasi perusahaan-perusahaan besar.
Pada era industri, pendidikan tinggi menjadi jalur utama untuk memperoleh pekerjaan, mengejar promosi jabatan, dan meningkatkan kesejahteraan.
Namun, di era digital banyak pilihan untuk mendapatkan income dan terkadang tidak lagi bergantung pada pekerjaan kantoran.
Di sisi lain, perusahaan juga semakin banyak yang meningkatkan efisiensi, seperti mulai mengandalkan teknologi seperti AI, robotisasi, dan otomatisasi. Akibatnya, sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia mulai tergantikan oleh teknologi.
Karena itu, banyak anak muda mulai menyadari bahwa bekerja sebagai karyawan tidak lagi menjamin keamanan karir dalam jangka panjang.
Gen Z Lebih Tertarik Menjadi Digital Nomad
Erna mengatakan perubahan tersebut membuat banyak Gen Z lebih tertarik menjadi digital nomad, freelancer, maupun content creator dibanding mengejar jenjang karir di perusahaan.
Dengan adanya dukungan internet, mereka dapat bekerja dari mana saja tanpa harus terikat lokasi tertentu.
“Work from anywhere” jadi salah satu fenomena yang terjadi akibat adanya era digitalisasi. Ini juga menjadi salah satu daya tarik, karena membuka peluang memperoleh penghasilan dari berbagai bidang kreatif tanpa harus bekerja secara konvensional di kantor.
Tidak Semua Gen Z Akan Mengalami Full Time Children
Meski demikian, Erna menegaskan tidak semua Gen Z akan mengalami fenomena full time children.
Menurutnya, masyarakat akan terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi, membangun jaringan, serta terus meningkatkan keterampilan sehingga mampu menciptakan sumber penghasilan baru.
Sementara kelompok kedua adalah mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sehingga berisiko mengalami keterpurukan ekonomi, termasuk kembali bergantung pada orang tua.
Erna menilai kemampuan mengakses informasi yang benar, meningkatkan literasi digital, dan membangun jejaring menjadi faktor penting yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan di era digital.
Perguruan Tinggi Harus Beradaptasi
Perubahan dunia kerja juga dinilai akan memengaruhi sistem pendidikan tinggi. Menurut Erna, perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan era digital agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ia bahkan menilai, di masa depan ijazah mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya penentu seseorang memperoleh penghasilan karena masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk membangun karier melalui ekonomi digital.
Fenomena ini seakan menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi bukan hanya mengubah jenis pekerjaan, tetapi juga mengubah hubungan antara pendidikan, pekerjaan, dan keluarga.
Karena itu, adaptasi adalah kunci agar gen z tidak tertinggal di tengah transformasi dunia kerja yang berlangsung semakin cepat.





















