Epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH, mengatakan fenomena El Nino yang terjadi di Indonesia berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama yang menyerang saluran pernapasan.
Dokter Dicky menjelaskan, El Nino meningkatkan berbagai faktor risiko lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan. Fenomena ini umumnya menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering.
Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta memperburuk kualitas udara. PM2.5 juga menyebabkan akumulasi polutan di wilayah perkotaan,”
ujar dr. Dicky kepada Owrite.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia. Selain itu, penderita asma berisiko mengalami serangan yang lebih sering dan lebih berat.
El Nino juga dapat memperburuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), meningkatkan risiko pneumonia pada kelompok rentan, serta menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.
Penyakit kardiovaskuler juga meningkat risikonya pada orang yang sudah memiliki riwayat dengan kondisi lebih berat, lalu juga jantung dan stroke. Karena paparan dari partikel halus tadi, PM2.5 ini, meningkatkan peradangan sistemik dan risiko pembekuan darah,”
paparnya.
Pantau Kualitas Udara dan Gunakan Masker
Untuk meminimalkan dampak tersebut, masyarakat diimbau memantau kualitas udara setiap hari. Jika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi.
Selain itu, masyarakat disarankan menggunakan masker dengan filtrasi yang baik, seperti KN95 atau N95, saat harus beraktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi tinggi. Menjaga kecukupan cairan tubuh juga penting selama musim kemarau.
Minum harus cukup karena pada musim kemarau tubuh kehilangan cairan lebih cepat, sehingga jangan menunggu haus untuk minum. Kalau memungkinkan hindari aktivitas fisik berat pada siang hari ketika suhu dan radiasi matahari sedang tinggi,”
jelasnya.
Bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit kronis, perlu lebih disiplin menjalani terapi rutin dan segera memeriksakan diri apabila gejala memburuk.
Yang juga paling penting juga adalah pengendalian sumber polusinya karena sebagian besar polusi udara perkotaan itu berasal dari emisi kendaraan, industri, dan pembakaran terbuka,”
ujarnya.
Jadi untuk solusi jangka panjang, sambung dr Dicky, tidak cukup hanya meminta masyarakat memakai masker tapi juga kita harus perbaiki kualitas udara melalui pengendalian emisi dan transportasi yang lebih bersih.
























