Gelombang panas yang melanda wilayah Eropa beberapa waktu terakhir tentu mengkhawatirkan banyak orang. Pasalnya, fenomena itu menyebabkan ribuan orang meninggal dunia.
Lantas apa sih faktor utama yang menyebabkan fenomen ini?
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena menjelaskan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa beberapa minggu belakangan ini dipicu oleh kombinasi dari fenomena meteorologi spesifik di atmosfer dan diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim global.
Adapun faktor-faktor utama yang memicu kondisi ekstrem, antara lain:
Blok Omega (Omega Block) dan Kubah Panas (Heat Dome)
Faktor meteorologi terpenting saat ini adalah terbentuknya Blok Omega, sebuah pola sirkulasi udara di atmosfer yang menyerupai bentuk huruf Yunani Omega.
Sistem tekanan tinggi (antisiklon) yang sangat kuat dan stabil mengunci wilayah Eropa Barat hingga Tengah, diapit oleh dua sistem tekanan rendah di sisi barat dan timurnya.
Kondisi ini menciptakan kubah panas (heat dome). Tekanan tinggi tersebut terus menekan udara panas ke bawah, memerangkapnya di permukaan bumi, dan mencegah terbentuknya awan maupun angin sejuk yang bisa menurunkan suhu, atau yang dikenal dengan pemanasan secara adiabatik,”
ujar Ardhasena.
Intrusi Udara Panas dari Gurun Sahara
Ardhasena menjelaskan sistem tekanan tinggi yang mandek tersebut menarik massa udara yang sangat panas dan kering langsung dari Gurun Sahara, Afrika Utara, lalu membawa ke wilayah Eropa (mulai dari Semenanjung Iberia, Prancis, Inggris, hingga ke wilayah Balkan).
Kontribusi Perubahan Iklim Global
Pola cuaca tekanan tinggi sebenarnya adalah hal biasa saat musim panas. Namun, yang membuat suhu melonjak drastis hingga menembus 40 derajat hingga 44 derajat Celcius di berbagai negara adalah juga kontribusi pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca.
Eropa saat ini tercatat sebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Pemanasan global ini menaikkan “suhu dasar” atmosfer, sehingga ketika fenomena cuaca seperti Blok Omega terjadi, suhu yang dihasilkan menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan beberapa dekade lalu,”
tambahnya.

























